Jakarta (pilar.id) – Pakar kebijakan publik Achmad Nur Hidayat meminta pemerintah mewaspadai lockdown Shanghai, China. Kebijakan lockdown tersebut diperkirakan akan berdampak pada perekonomian global.
Pengawasan yang super ketat untuk para pendatang, lanjut Achmad, sangat diperlukan guna mencegah covid-19 yang berasal Shanghai. Apalagi, terdapat penerbangan langsung China-Indonesia yang hanya membutuhkan waktu 4 jam.
“Gimanapun dia bisa bermutasi, karena ini tipe baru dan melekat nama omicron, karena saking cepatnya bisa ke mana-mana,” kata Achmad, di Jakarta, Rabu (14/4/2022).
Menurut Achmad, bila diperlukan pemerintah harus menutup akses mulai dari pelabuhan hingga bandara untuk mencegah pendatang dari luar negeri. Selain itu, pemerintah juga bisa kembali menerapkan karantina selama 14 hari.
“Saya kira belajar dari covid 2 tahun ini tidak perlu khawatir untuk melakukan buka-tutup seperti itu,” kata Achmad.
Shanghai merupakan pusat pasar keuangan di China. Lebih dari 70 ribu perusahaan asing berkantor di kota ini. Namun, otoritas di Shanghai meminta warga mematuhi aturan lockdown saat kasus baru meningkat menjadi lebih dari 25.000 baru-baru ini.
Sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua, dampak lockdown dipastikan tidak hanya akan dirasakan negara China saja, tetapi negara-negara mitra dagang. “Terutama negara yang mengsuplay energi kepada Shanghai,” kata dia.
Indonesia sendiri sudah satu dekade mengekspor gas ke Shanghai. Jika lockdown terus berlanjut, diperkirakan akan mengurangi neraca perdagangan.
“Kalau pemerintah tidak kompeten menangani masalah ekonomi, itu krisis sosial dan krisis politik akan lebih cepat,” kata dia. (ach/fat)

