Close Menu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Culture
  • Visual
  • Khas
  • Pilar Muda
  • Pilar Wanita
  • Indeks
Facebook Instagram YouTube
TRENDING
  • Alumni Ekonomi Islam UNAIR Berkiprah di Kebijakan Energi Nasional, Dwi Wulan Ramadani Dorong Transisi Energi Berkelanjutan
  • Perdagangan Gading Gajah di Bali Terbongkar, Berkas Perkara Tersangka Sudah Dinyatakan Lengkap
  • Rambo: Last Blood (2019): Misi Balas Dendam Terakhir John Rambo yang Menuai Kontroversi dan Sukses di Box Office
  • OJK Perkuat BPR dan BPRS Lewat Roadmap 2024-2027, Aset Tembus Rp236,69 Triliun pada Maret 2026
  • Polres Gresik Kembalikan 3 Motor Korban Curanmor dan Begal, AKBP Ramadhan Nasution: Tanpa Biaya Sepeser Pun
Facebook Instagram YouTube X (Twitter) TikTok RSS
pilar pemilu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Visual
  • Pilar Muda
  • Khas
  • Lainnya
    • Pilar Budaya
    • Pilar Bola
    • Pilar Jakarta
    • Pilar Wanita
INDEKS
Pilar.IDPilar.ID
Home»Esai»Redefinisi Kecantikan, Mau yang Lokal atau Internasional?

Redefinisi Kecantikan, Mau yang Lokal atau Internasional?

Esai Retno Wulandari4 November 2023
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Industri kecantikan telah menjadi salah satu industri terbesar di dunia dengan pertumbuhan yang pesat. Dalam beberapa dekade terakhir, industri ini telah mengalami perubahan besar-besaran, tidak hanya dalam hal produk yang ditawarkan, tetapi juga dalam cara industri ini memengaruhi standar kecantikan di masyarakat.

Salah satu dampak yang kurang diungkap adalah hilangnya kecantikan khas daerah karena promosi produk kecantikan yang umumnya didasarkan pada standar kecantikan global.

Ini yang terjadi, industri kecantikan cenderung mempromosikan standar kecantikan global yang sering kali berbeda dengan kecantikan lokal.

Standar kecantikan global sering kali diilustrasikan dalam media massa dengan ciri-ciri tertentu seperti kulit cerah, bentuk tubuh tertentu, dan fitur wajah tertentu.

Promosi produk-produk kecantikan yang mengikuti standar ini mengakibatkan masyarakat merasa tertekan untuk memenuhi norma tersebut, bahkan jika norma tersebut tidak sesuai dengan kecantikan lokal yang beragam.

Ketika industri kecantikan menekankan standar global, banyak kecantikan khas daerah mulai merasa inferior. Produk-produk kecantikan seringkali menyiratkan bahwa kulit cerah adalah standar kecantikan yang diinginkan, dan ini bisa mengarah pada penggunaan produk pemutih kulit yang merugikan.

Dalam beberapa masyarakat, fitur wajah dan tubuh yang berbeda dari standar global mungkin dianggap kurang menarik, menghasilkan rasa rendah diri yang pada gilirannya dapat merusak citra diri.

Media massa, termasuk iklan produk kecantikan, serta selebriti yang sering berperan sebagai ikon kecantikan, berperan besar dalam membentuk persepsi kecantikan.

Baca Juga  Gunung Merapi Jadi Lokasi Pelaksanaan Puncak Hari Kesiapsiagaan Bencana

Kebanyakan selebriti yang dihadirkan dalam iklan produk kecantikan adalah mereka yang memenuhi standar global. Ini dapat mempengaruhi penonton, terutama generasi muda, untuk menganggap bahwa hanya kecantikan sesuai standar global yang berharga.

Promosi produk pemutih kulit adalah contoh nyata bagaimana industri kecantikan berkontribusi pada hilangnya kecantikan khas daerah.

Dalam banyak budaya Asia, kulit cerah adalah standar kecantikan, dan ini telah mendorong konsumsi produk pemutih kulit secara luas. Pemakaian produk ini dapat memiliki konsekuensi kesehatan yang serius dan memicu diskriminasi terhadap orang dengan warna kulit yang lebih gelap.

Dengan gambaran ini, bisa jadi kita memang perlu lebih serius menilai ulang standar kecantikan. Karena penting untuk merespons dampak negatif dari standar kecantikan global yang diimpor oleh industri kecantikan dengan mengkaji ulang konsep kecantikan lokal.

Masyarakat perlu memahami bahwa kecantikan tidak seharusnya dibatasi oleh standar global, dan bahwa keindahan khas daerah memiliki nilai yang mendalam. Perlu juga mempromosikan keragaman kecantikan sebagai sesuatu yang harus dihargai.

Industri kecantikan telah memberikan kontribusi besar terhadap hilangnya kecantikan khas daerah karena penekanannya pada standar kecantikan global yang tidak selalu sesuai dengan kecantikan lokal.

Hal ini mengakibatkan penggunaan produk pemutih kulit yang merugikan, perasaan tidak percaya diri, dan citra diri yang rusak.

Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kecantikan lokal memiliki nilai yang mendalam dan perlu dihormati. Perubahan dalam pandangan tentang kecantikan adalah langkah pertama untuk mengembalikan kecantikan khas daerah dan mempromosikan kecantikan yang beragam.

Baca Juga  Merk Lokal Kecantikan Kuasai Pasar Indonesia, Pembelian Produk di 2021 Meningkat

line

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Pilar.id

line  

Kearifan Lokal Kecantikan

Berita Lainnya

Dr. Listiyono Santoso, SS, MHum, Dosen dan Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga

Perubahan Nama RS di Jabar Jadi Welas Asih Adalah Simbol Kearifan Lokal

15 Juli 2025
Kearifan Lokal di Media Sosial, Sebuah Catatan Kecil

Kearifan Lokal di Media Sosial, Sebuah Catatan Kecil

15 Oktober 2024

Gunung Merapi Jadi Lokasi Pelaksanaan Puncak Hari Kesiapsiagaan Bencana

25 April 2022
Leave A Reply Cancel Reply

FOTO PILIHAN
Penyerahan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13.255.244.538.149,00 dari Kejaksaan Agung kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Presiden Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara Rp13,25 Triliun dari Kejaksaan Agung

Foto Pilihan 23 Oktober 2025
Lomba Open Water Swimming di Ternate jadi ajang memperkuat sinergi TNI, Pemda, dan masyarakat dalam semangat nasionalisme dan cinta laut.

Lomba Open Water Swimming di Ternate Perkuat Sinergi TNI dan Pemda Maluku Utara

Foto Pilihan 16 Oktober 2025
Aksi live painting BUNTA iNOUE

Pagelaran Sabang Merauke 2025 Sukses Hibur 28.000 Penonton di Jakarta

Foto Pilihan 26 Agustus 2025
TNI tampil gemilang di Bastille Day 2025 di Paris.

TNI Tampil di Parade Bastille Day 2025, Simbol Eratnya Kemitraan Indonesia–Prancis

Foto Pilihan 15 Juli 2025
Artotel Wanderlust dan Prambanan Jazz Festival

Jazz Night PJF 2025 di ARTOTEL TS Suites Surabaya Hadirkan Nuansa Musik Intim dan Penuh Warna

Foto Pilihan 15 Juni 2025
Berita Pilihan
Ilustrasi Bitcoin (foto: Karolina Grabowska, pexels)

Bitcoin Anjlok di Tengah Konflik AS-Iran, Pasar Kripto Global Kehilangan Triliunan Rupiah

29 Mei 2026
Naomi Osaka tampil mencuri perhatian di French Open 2026 lewat busana couture berkilau sebelum meraih kemenangan di Paris.

Naomi Osaka Curi Perhatian di French Open 2026 dengan Gaun Emas Berkilau dan Gaya Couture

28 Mei 2026
Crystal Palace menjuarai Liga Conference 2025/26 usai mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 di final. Gelar Eropa pertama The Eagles tercipta di Leipzig.

Crystal Palace Juara Liga Conference 2025/26 Usai Kalahkan Rayo Vallecano di Final

28 Mei 2026
Ruri Agung Wahyuono

ITS Kembangkan Strip Test Kit Pendeteksi Minyak Babi, Praktis untuk Muslim Traveler dan UMKM

27 Mei 2026
Sejumlah pesawat Garuda Indonesia sedang parkir di bandara udara (foto: Ekky Wicaksono, pexels)

Garuda Indonesia Catat OTP Haji 98,21 Persen, Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir

25 Mei 2026
Berita Lainnya
Dwi Wulan Ramadani

Alumni Ekonomi Islam UNAIR Berkiprah di Kebijakan Energi Nasional, Dwi Wulan Ramadani Dorong Transisi Energi Berkelanjutan

3 Juni 2026
Barang bukti kasus perdagangan bagian satwa dilindungi berupa gading gajah di Kabupaten Gianyar, Bali

Perdagangan Gading Gajah di Bali Terbongkar, Berkas Perkara Tersangka Sudah Dinyatakan Lengkap

2 Juni 2026
Sylvester Stallone dalam Rambo: Last Blood (2019)

Rambo: Last Blood (2019): Misi Balas Dendam Terakhir John Rambo yang Menuai Kontroversi dan Sukses di Box Office

2 Juni 2026
© 2026 pilar.ID | beritajatim.com network
  • Beranda
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Arsip Berita
  • Indeks

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.