Yogyakarta (pilar.id) – Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat sistem mitigasi kebakaran di kawasan padat penduduk dengan membangun jaringan hidran kering berbasis kampung. Pada 2026, proyek tersebut akan difokuskan di Kampung Suryowijayan, Kelurahan Gedongkiwo, Mantrijeron, sebagai wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta, Taokhid, menyampaikan bahwa kawasan Suryowijayan diprioritaskan karena kepadatan hunian dan akses jalan yang sempit, sehingga menyulitkan mobil pemadam kebakaran menjangkau titik api secara cepat.
Selain itu, karakter bangunan di wilayah tersebut didominasi struktur non permanen dengan material yang mudah terbakar. Kondisi ini meningkatkan risiko penyebaran api jika terjadi kebakaran, sehingga diperlukan sistem proteksi tambahan berbasis lingkungan.
Pembangunan jaringan hidran kampung ini telah memiliki Detail Engineering Design (DED) dan menjadi bagian dari total 27 perencanaan serupa yang disiapkan pemerintah kota. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 19 titik hidran kampung yang tersebar di berbagai wilayah Yogyakarta.
Untuk proyek di Suryowijayan, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp874 juta dari APBD 2026. Jaringan hidran yang akan dibangun memiliki panjang sekitar 1.200 meter dan saat ini prosesnya masih dalam tahap lelang melalui sistem pengadaan elektronik. Pelaksanaan konstruksi diperkirakan dimulai pada pertengahan Mei 2026 setelah proses tender selesai.
Taokhid menjelaskan, pembangunan hidran kampung tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga mencakup peningkatan sistem proteksi kebakaran secara menyeluruh. Ini meliputi proteksi pasif, proteksi aktif, hingga penguatan manajemen keselamatan kebakaran berbasis masyarakat.
Pendekatan berbasis kampung dinilai efektif karena melibatkan langsung warga dalam upaya pencegahan dan penanganan awal kebakaran. Pemerintah juga berencana melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat setelah proses konstruksi dimulai, meskipun informasi awal telah disampaikan melalui perangkat kelurahan dan lembaga masyarakat.
Keterbatasan anggaran membuat pembangunan hidran kampung dilakukan secara bertahap, rata-rata satu lokasi setiap tahun. Namun, keberadaan fasilitas ini terbukti mampu meningkatkan respons awal saat terjadi kebakaran dan menekan potensi kerugian.
Data internal menunjukkan bahwa wilayah yang telah memiliki sistem hidran kampung cenderung lebih siap menghadapi risiko kebakaran, bahkan insiden kebakaran relatif jarang terjadi di kawasan tersebut. Pemerintah berharap pembangunan di Suryowijayan dapat memberikan perlindungan serupa sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi potensi bencana kebakaran. (usm)










