Surabaya (pilar.id) – Momentum Hari Anak Nasional (HAN) menjadi ajang refleksi penting bagi para orang tua dalam mengevaluasi kembali pola pengasuhan di rumah. Di era dominasi Generasi Alpha yang tumbuh berdampingan dengan pesatnya teknologi, pendekatan pengasuhan konvensional dinilai tidak lagi memadai.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Primatia Yogi Wulandari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menyoroti bahwa tantangan terbesar pengasuhan di Indonesia saat ini bukan lagi sekadar membatasi durasi penggunaan gawai (gadget) atau menerapkan kedisiplinan yang kaku. Hal yang jauh lebih krusial adalah membangun hubungan yang hangat, responsif, serta interaktif antara orang tua dan anak.
Menurutnya, praktik pengasuhan yang masih mengandalkan bentakan atau hukuman fisik harus segera ditinggalkan. Pengasuhan yang sehat bertujuan membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan matang secara psikologis, bukan sekadar menuntut kepatuhan secara buta.
Pentingnya Pengasuhan Responsif dan Komunikasi Dua Arah
Menerapkan pengasuhan responsif yang dikombinasikan dengan batasan yang jelas terbukti lebih efektif dalam mengasah kecerdasan emosional anak. Pendekatan ini membantu anak membangun rasa percaya diri, mengelola emosi dengan baik, hingga melatih kemampuan menyelesaikan masalah.
Guna mewujudkan hal tersebut, komunikasi dua arah yang konsisten menjadi kunci utama. Orang tua disarankan menerapkan metode mendengarkan secara aktif (active listening)—yaitu mendengarkan cerita anak hingga tuntas dan memvalidasi perasaan mereka sebelum terburu-buru memberikan nasihat.
Budaya komunikasi yang terlalu hierarkis kerap membuat anak enggan berpendapat karena takut dianggap membangkang. Padahal, memberikan ruang bagi anak untuk bersuara tidak akan mengikis kewibawaan orang tua, melainkan memperkuat kelekatan emosional (attachment) agar anak menjadikan orang tua sebagai tempat berlindung utama saat menghadapi masalah.
Beralih dari ‘Digital Police’ Menjadi ‘Digital Mentor’
Seiring dengan tingginya paparan teknologi pada Generasi Alpha, peran orang tua dituntut untuk bertransformasi. Orang tua disarankan tidak hanya bertindak sebagai pengawas ketat (digital police), melainkan hadir sebagai pendamping digital (digital mentor).
Peran digital mentor sangat penting untuk memitigasi berbagai risiko siber, mulai dari kecanduan gawai hingga potensi perundungan siber (cyberbullying). Melalui pendekatan ini, anak diajarkan cara memanfaatkan teknologi secara bijak, aman, dan sehat.
Di sisi lain, maraknya tren media sosial juga rentan memicu kelelahan mental pada orang tua (parental burnout) akibat standar pengasuhan yang tidak realistis. Peningkatan literasi digital bagi orang tua menjadi sangat mendesak, terutama dalam menyikapi fenomena pengunggahan konten anak secara berlebihan (sharenting). Pertimbangan terhadap hak privasi, keselamatan, dan jejak digital anak di masa depan harus selalu menjadi prioritas utama sebelum membagikan konten di media sosial.
Hadir Utuh untuk Generasi yang Sehat Mental
Investasi terbesar bagi masa depan bangsa tidak terletak pada penyediaan fasilitas mahal, melainkan pada kualitas hubungan di dalam keluarga. Peringatan Hari Anak Nasional ini hendaknya menjadi momentum bagi setiap orang tua untuk kembali hadir secara utuh bagi anak-anak mereka.
Anak-anak pada dasarnya tidak membutuhkan figur orang tua yang sempurna, melainkan keberadaan orang tua yang benar-benar hadir dan terlibat. Meluangkan waktu berkualitas tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan serta mendampingi anak merupakan fondasi utama dalam membesarkan generasi yang cerdas, tangguh, dan sehat secara mental. (hdl)










