Close Menu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Culture
  • Visual
  • Khas
  • Pilar Muda
  • Pilar Wanita
  • Indeks
Facebook Instagram YouTube
TRENDING
  • Berburu Promo Tiket Murah di Travel Fair? Waspadai 3 Hal Penting Ini Agar Tidak Buntung
  • Edukasi Perimenopause Primaya Hospital: Kunci Perempuan Tetap Sehat dan Produktif di Usia 40-an
  • Hari Anak Nasional 2026: Baby Happy Perluas Gerakan Anti Ruam Sasar 50 Ribu Ibu dan Bayi
  • Universitas Paramadina dan Komisi X DPR RI Bahas Transformasi Pendidikan Nasional di Era AI
  • Gubernur Khofifah Lesehan Bareng Ribuan Warga Nobar Final Piala Dunia 2026 di Grahadi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter) TikTok RSS
pilar pemilu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Visual
  • Pilar Muda
  • Khas
  • Lainnya
    • Pilar Budaya
    • Pilar Bola
    • Pilar Jakarta
    • Pilar Wanita
INDEKS
Pilar.IDPilar.ID
Home»Esai»Sultan Khan

Sultan Khan

Esai Oryza A. Wirawan2 Januari 2022
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Bahkan di negeri yang buta huruf pun, buku-buku di rak toko milik Sultan Khan dianggap jadi agen subversif yang paling meresahkan. Ia seorang pedagang buku di Kabul, dengan buku yang beragam: sejarah novel, koleksi puisi, kisah-kisah legenda.

Dalam hidupnya yang sumpek dengan banyak istri dan anak, Sultan berada pada perbatasan stigma dua rezim yang hidup bergantian, rezim anti Tuhan dan rezim pemerintahan yang bertuhan.

Di mata rezim komunis, ia borjuis kecil yang mencintai kapitalisme. Namun di mata Departemen Pembinaan Kebajikan dan Penghapusan Dosa milik Taliban (hanya Tuhan yang tahu apakah di akherat ada departemen macam begini), ia tak cukup Islami. Jenggot, salat lima waktu, berpuasa, dan pakaian shalwaar kameez yang cingkrang itu tak menyelamatkannya dari penjara.

Siang yang terik di bulan November itu, orang-orang buta huruf yang merasa membawa lisensi dari Tuhan datang: menyegel toko bukunya. Hari itu, mereka mencari buku-buku yang bergambar makhluk hidup. Tak butuh waktu lama untuk membuat api unggun dengan bahan bakar ratusan buku, di persimpangan Charhai e-Sadarat: sebuah api untuk memuliakan Yang Maha Berpengetahuan.

“Mulanya komunis membakar buku saya, lalu datang Mujahidin yang merampas dan menjarahnya. Terakhir, Taliban membakar semuanya,” kata Sultan.

Oryza A. Wirawan
Oryza A. Wirawan
Jurnalis, pegiat literasi Jember Jawa Timur

Jurnalis Asne Seierstad dalam buku The Bookseller of Kabul menunjukkan di Afghanistan, saudagar buku adalah salah satu pekerjaan yang paling berbahaya, yang memungkinkan orang seperti Sultan Khan berhadapan dengan para polisi syariat dan orang-orang yang menggengam kalashnikov.

Mereka menghanguskan buku-buku yang satu, tapi memaksa Sultan menjual buku-buku yang lain yang telah cemar.

Baca Juga  Minat Baca Gen Z Meningkat, Konsumsi Hiburan Digital di Indonesia Menurun pada 2025

Satu buku pelajaran Matematika versi Taliban yang digunakan untuk anak-anak kelas satu sekolah dasar bercerita tentang Omar dan Kalashinikov-nya.: Si Omar punya kalashnikov bermagazin tiga. Satu magazin berisi 20 butir pelor. Si Omar menembakkan dua pertiga pelor dan membunuh 60 orang murtad. Berapa orang murtad yang berhasil ditewaskan dengan setiap peluru?

Apa yang membuat buku dianggap begitu berbahaya? Saya tentu saja tak sanggup menyebutkan bertumpuk alasan rezim diktator di dunia yang membenci buku. Namun buku tentu saja mengakhiri rezim oral, folklore, cerita getok tular yang lebih banyak memunculkan mitos daripada fakta.

Rezim cerita mulut ke mulut yang memungkinkan seorang diktator membangun citranya di atas tumpukan kebenaran dan ketidakbenaran, tanpa bisa dikoreksi ulang. Mitos menjalar cepat bagai wabah menular dengan banyak perawi.

“Kalian bisa saja membakar buku-bukuku, kalian bisa menyusahkan hidupku, bahkan kalian bisa membunuhku, tapi kalian tak akan bisa menghapus sejarah Afghanistan.” Hanya rezim yang bebal yang memberangus buku.

Lalu Gutenberg menemukan mesin cetak, dan kita pun sadar: pengetahuan bukanlah monopoli para bangsawan dari puak tertentu dan para agamawan. Buku menjadi bagian dari liberalisasi manusia atas otoritas institusi yang menindas diri mereka atas nama apapun.

Mungkin, karena itulah, karena buku mewakili apa yang disebut semangat pembebasan manusia menembus bilik-bilik pengetahuan, ia menjadi dibenci oleh mereka yang membangun kuasa di atas doktrin. Doktrin, dogma, propaganda, tidak membutuhkan keragaman. Ia tak butuh dipertanyakan.

Baca Juga  Bersyukurlah Jika Kau Tak Suka Baca Buku

Buku ditulis dengan kuasa sang author, sang penulis. Namun, ‘sang author mati’ begitu bukunya dilemparkan ke pasaran dan dibaca banyak orang.

Tafsir dan maksud sang author atas sebuah buku, bisa dibantah dan dimaknai berbeda oleh khalayak pembaca. Ini tentu menjengkelkan, dan lebih menjengkelkan lagi bagi rezim penyuka keseragaman, setiap buku berpotensi melahirkan buku tandingan. Terlalu banyak buku dengan pikiran yang berbeda memunculkan banyak kerepotan dan perdebatan.

Maka, kita pun tahu Herman Goebels membakar ribuan buku, saat para tentara Nazi tiba di setiap kota di Eropa. Kejaksaan melarang buku-buku yang dianggap bisa mencemari masyarakat dan tak sesuai dengan konstitusi (entah tafsir konstitusi mana yang dipakai): menyeakankan rakyat adalah domba yang tak berdaya, dan buku-buku adalah serigala-serigala dengan taring nan tajam.

Pemerintah tak mau memberikan subsidi bagi penerbit buku agar buku-buku bisa dijual dengan murah. Anggaran untuk perpustakaan daerah lebih kecil daripada anggaran klub sepak bola. Semua berujung pada pemberangusan buku, pemberangusan semangat diseminasi pengetahuan: bahwa ilmu adalah hak untuk semua.

Namun, apa yang bisa didapat dari membakar sebuah buku, memberangusnya? Suatu hari dalam sebuah interogasi di bui, Sultan Khan berkata dengan bangga di hadapan para inkuisitornya: “Kalian bisa saja membakar buku-bukuku, kalian bisa menyusahkan hidupku, bahkan kalian bisa membunuhku, tapi kalian tak akan bisa menghapus sejarah Afghanistan.” Hanya rezim yang bebal yang memberangus buku.

Verba volant scripta manent.

Yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi.

Add Pilar.ID as a preferred source on Google+

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Pilar.id
budaya baca

Berita Lainnya

Ilustrasi seorang remaja sedang membaca buku di perpustakaan

Minat Baca Gen Z Meningkat, Konsumsi Hiburan Digital di Indonesia Menurun pada 2025

24 Januari 2026

Andai Membaca adalah Gaya Hidup yang Trendy

27 November 2023

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Gencarkan Budaya Membaca Melalui Program IKRA dan Baca Jakarta

3 November 2023

Hari Buku Nasional, Gubernur Khofifah: Literasi Digital Dorong Penguatan Produktivias hingga Solidaritas

17 Mei 2022

Bersyukurlah Jika Kau Tak Suka Baca Buku

17 Januari 2022

Ajakan Membaca dari Rombong Pentol Nusantara

30 November 2021
Leave A Reply Cancel Reply

FOTO PILIHAN
Penyerahan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13.255.244.538.149,00 dari Kejaksaan Agung kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Presiden Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara Rp13,25 Triliun dari Kejaksaan Agung

Foto Pilihan 23 Oktober 2025
Lomba Open Water Swimming di Ternate jadi ajang memperkuat sinergi TNI, Pemda, dan masyarakat dalam semangat nasionalisme dan cinta laut.

Lomba Open Water Swimming di Ternate Perkuat Sinergi TNI dan Pemda Maluku Utara

Foto Pilihan 16 Oktober 2025
Aksi live painting BUNTA iNOUE

Pagelaran Sabang Merauke 2025 Sukses Hibur 28.000 Penonton di Jakarta

Foto Pilihan 26 Agustus 2025
TNI tampil gemilang di Bastille Day 2025 di Paris.

TNI Tampil di Parade Bastille Day 2025, Simbol Eratnya Kemitraan Indonesia–Prancis

Foto Pilihan 15 Juli 2025
Artotel Wanderlust dan Prambanan Jazz Festival

Jazz Night PJF 2025 di ARTOTEL TS Suites Surabaya Hadirkan Nuansa Musik Intim dan Penuh Warna

Foto Pilihan 15 Juni 2025
Berita Pilihan
Kristina Yoko

J Trust Bank Gandeng Pegolf Kristina Yoko, Perkuat Dukungan Atlet Indonesia Menuju Panggung Dunia

19 Juli 2026
VinFast resmi membuka 20 dealer motor listrik di kota besar Indonesia pada Juli 2026. Konsumen bisa menjajal lini produk hingga layanan tukar baterai gratis.

VinFast Buka 20 Dealer Motor Listrik di Indonesia: Hadirkan Model Evo, Feliz II, dan Viper

18 Juli 2026
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memperkuat ekosistem Koperasi Merah Putih Tukangkayu Banyuwangi untuk menjaga pasokan sembako dan LPG 3 kg.

Khofifah Tinjau Koperasi Merah Putih Tukangkayu Banyuwangi: Pastikan Stok Sembako dan LPG 3 Kg Aman

18 Juli 2026
Moh. Zaki Ubaidillah

Debut Manis di Japan Open 2026: Zaki Ubaidillah Tumbangkan Wakil Denmark dan Lolos 16 Besar

17 Juli 2026
Secure Parking Indonesia sukses mengurai kepadatan mobilitas 6,1 juta pengunjung dan transaksi Rp8,2 triliun selama 32 hari Jakarta Fair 2026.

Sukses Kelola Parkir 6,1 Juta Pengunjung Jakarta Fair 2026, Begini Strategi Secure Parking Meta

16 Juli 2026
Berita Lainnya
Head of Travel Management & Direct Retail PT Sompo Insurance Indonesia (Sompo Indonesia), Maria Susana

Berburu Promo Tiket Murah di Travel Fair? Waspadai 3 Hal Penting Ini Agar Tidak Buntung

20 Juli 2026
Primaya Hospital gelar seminar edukasi perimenopause. Pahami perubahan hormon, gejala fisik, hingga perawatan medis bagi perempuan usia 40 tahun ke atas.

Edukasi Perimenopause Primaya Hospital: Kunci Perempuan Tetap Sehat dan Produktif di Usia 40-an

20 Juli 2026
Menyambut Hari Anak Nasional 2026, Baby Happy gelar Gerakan Anti Ruam di 10 kota untuk lindungi skin barrier bayi demi tumbuh kembang optimal.

Hari Anak Nasional 2026: Baby Happy Perluas Gerakan Anti Ruam Sasar 50 Ribu Ibu dan Bayi

20 Juli 2026
© 2026 pilar.ID | beritajatim.com network
  • Beranda
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Arsip Berita
  • Indeks

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.