Close Menu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Culture
  • Visual
  • Khas
  • Pilar Muda
  • Pilar Wanita
  • Indeks
Facebook Instagram YouTube
TRENDING
  • Alumni Ekonomi Islam UNAIR Berkiprah di Kebijakan Energi Nasional, Dwi Wulan Ramadani Dorong Transisi Energi Berkelanjutan
  • Perdagangan Gading Gajah di Bali Terbongkar, Berkas Perkara Tersangka Sudah Dinyatakan Lengkap
  • Rambo: Last Blood (2019): Misi Balas Dendam Terakhir John Rambo yang Menuai Kontroversi dan Sukses di Box Office
  • OJK Perkuat BPR dan BPRS Lewat Roadmap 2024-2027, Aset Tembus Rp236,69 Triliun pada Maret 2026
  • Polres Gresik Kembalikan 3 Motor Korban Curanmor dan Begal, AKBP Ramadhan Nasution: Tanpa Biaya Sepeser Pun
Facebook Instagram YouTube X (Twitter) TikTok RSS
pilar pemilu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Visual
  • Pilar Muda
  • Khas
  • Lainnya
    • Pilar Budaya
    • Pilar Bola
    • Pilar Jakarta
    • Pilar Wanita
INDEKS
Pilar.IDPilar.ID
Home»Esai»Sultan Khan

Sultan Khan

Esai Oryza A. Wirawan2 Januari 2022
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Bahkan di negeri yang buta huruf pun, buku-buku di rak toko milik Sultan Khan dianggap jadi agen subversif yang paling meresahkan. Ia seorang pedagang buku di Kabul, dengan buku yang beragam: sejarah novel, koleksi puisi, kisah-kisah legenda.

Dalam hidupnya yang sumpek dengan banyak istri dan anak, Sultan berada pada perbatasan stigma dua rezim yang hidup bergantian, rezim anti Tuhan dan rezim pemerintahan yang bertuhan.

Di mata rezim komunis, ia borjuis kecil yang mencintai kapitalisme. Namun di mata Departemen Pembinaan Kebajikan dan Penghapusan Dosa milik Taliban (hanya Tuhan yang tahu apakah di akherat ada departemen macam begini), ia tak cukup Islami. Jenggot, salat lima waktu, berpuasa, dan pakaian shalwaar kameez yang cingkrang itu tak menyelamatkannya dari penjara.

Siang yang terik di bulan November itu, orang-orang buta huruf yang merasa membawa lisensi dari Tuhan datang: menyegel toko bukunya. Hari itu, mereka mencari buku-buku yang bergambar makhluk hidup. Tak butuh waktu lama untuk membuat api unggun dengan bahan bakar ratusan buku, di persimpangan Charhai e-Sadarat: sebuah api untuk memuliakan Yang Maha Berpengetahuan.

“Mulanya komunis membakar buku saya, lalu datang Mujahidin yang merampas dan menjarahnya. Terakhir, Taliban membakar semuanya,” kata Sultan.

Oryza A. Wirawan
Oryza A. Wirawan
Jurnalis, pegiat literasi Jember Jawa Timur

Jurnalis Asne Seierstad dalam buku The Bookseller of Kabul menunjukkan di Afghanistan, saudagar buku adalah salah satu pekerjaan yang paling berbahaya, yang memungkinkan orang seperti Sultan Khan berhadapan dengan para polisi syariat dan orang-orang yang menggengam kalashnikov.

Mereka menghanguskan buku-buku yang satu, tapi memaksa Sultan menjual buku-buku yang lain yang telah cemar.

Baca Juga  Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Gencarkan Budaya Membaca Melalui Program IKRA dan Baca Jakarta

Satu buku pelajaran Matematika versi Taliban yang digunakan untuk anak-anak kelas satu sekolah dasar bercerita tentang Omar dan Kalashinikov-nya.: Si Omar punya kalashnikov bermagazin tiga. Satu magazin berisi 20 butir pelor. Si Omar menembakkan dua pertiga pelor dan membunuh 60 orang murtad. Berapa orang murtad yang berhasil ditewaskan dengan setiap peluru?

Apa yang membuat buku dianggap begitu berbahaya? Saya tentu saja tak sanggup menyebutkan bertumpuk alasan rezim diktator di dunia yang membenci buku. Namun buku tentu saja mengakhiri rezim oral, folklore, cerita getok tular yang lebih banyak memunculkan mitos daripada fakta.

Rezim cerita mulut ke mulut yang memungkinkan seorang diktator membangun citranya di atas tumpukan kebenaran dan ketidakbenaran, tanpa bisa dikoreksi ulang. Mitos menjalar cepat bagai wabah menular dengan banyak perawi.

“Kalian bisa saja membakar buku-bukuku, kalian bisa menyusahkan hidupku, bahkan kalian bisa membunuhku, tapi kalian tak akan bisa menghapus sejarah Afghanistan.” Hanya rezim yang bebal yang memberangus buku.

Lalu Gutenberg menemukan mesin cetak, dan kita pun sadar: pengetahuan bukanlah monopoli para bangsawan dari puak tertentu dan para agamawan. Buku menjadi bagian dari liberalisasi manusia atas otoritas institusi yang menindas diri mereka atas nama apapun.

Mungkin, karena itulah, karena buku mewakili apa yang disebut semangat pembebasan manusia menembus bilik-bilik pengetahuan, ia menjadi dibenci oleh mereka yang membangun kuasa di atas doktrin. Doktrin, dogma, propaganda, tidak membutuhkan keragaman. Ia tak butuh dipertanyakan.

Baca Juga  Ajakan Membaca dari Rombong Pentol Nusantara

Buku ditulis dengan kuasa sang author, sang penulis. Namun, ‘sang author mati’ begitu bukunya dilemparkan ke pasaran dan dibaca banyak orang.

Tafsir dan maksud sang author atas sebuah buku, bisa dibantah dan dimaknai berbeda oleh khalayak pembaca. Ini tentu menjengkelkan, dan lebih menjengkelkan lagi bagi rezim penyuka keseragaman, setiap buku berpotensi melahirkan buku tandingan. Terlalu banyak buku dengan pikiran yang berbeda memunculkan banyak kerepotan dan perdebatan.

Maka, kita pun tahu Herman Goebels membakar ribuan buku, saat para tentara Nazi tiba di setiap kota di Eropa. Kejaksaan melarang buku-buku yang dianggap bisa mencemari masyarakat dan tak sesuai dengan konstitusi (entah tafsir konstitusi mana yang dipakai): menyeakankan rakyat adalah domba yang tak berdaya, dan buku-buku adalah serigala-serigala dengan taring nan tajam.

Pemerintah tak mau memberikan subsidi bagi penerbit buku agar buku-buku bisa dijual dengan murah. Anggaran untuk perpustakaan daerah lebih kecil daripada anggaran klub sepak bola. Semua berujung pada pemberangusan buku, pemberangusan semangat diseminasi pengetahuan: bahwa ilmu adalah hak untuk semua.

Namun, apa yang bisa didapat dari membakar sebuah buku, memberangusnya? Suatu hari dalam sebuah interogasi di bui, Sultan Khan berkata dengan bangga di hadapan para inkuisitornya: “Kalian bisa saja membakar buku-bukuku, kalian bisa menyusahkan hidupku, bahkan kalian bisa membunuhku, tapi kalian tak akan bisa menghapus sejarah Afghanistan.” Hanya rezim yang bebal yang memberangus buku.

Verba volant scripta manent.

Yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi.

line

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Pilar.id

line  

budaya baca

Berita Lainnya

Ilustrasi seorang remaja sedang membaca buku di perpustakaan

Minat Baca Gen Z Meningkat, Konsumsi Hiburan Digital di Indonesia Menurun pada 2025

24 Januari 2026

Andai Membaca adalah Gaya Hidup yang Trendy

27 November 2023

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Gencarkan Budaya Membaca Melalui Program IKRA dan Baca Jakarta

3 November 2023

Hari Buku Nasional, Gubernur Khofifah: Literasi Digital Dorong Penguatan Produktivias hingga Solidaritas

17 Mei 2022

Bersyukurlah Jika Kau Tak Suka Baca Buku

17 Januari 2022

Ajakan Membaca dari Rombong Pentol Nusantara

30 November 2021
Leave A Reply Cancel Reply

FOTO PILIHAN
Penyerahan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13.255.244.538.149,00 dari Kejaksaan Agung kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Presiden Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara Rp13,25 Triliun dari Kejaksaan Agung

Foto Pilihan 23 Oktober 2025
Lomba Open Water Swimming di Ternate jadi ajang memperkuat sinergi TNI, Pemda, dan masyarakat dalam semangat nasionalisme dan cinta laut.

Lomba Open Water Swimming di Ternate Perkuat Sinergi TNI dan Pemda Maluku Utara

Foto Pilihan 16 Oktober 2025
Aksi live painting BUNTA iNOUE

Pagelaran Sabang Merauke 2025 Sukses Hibur 28.000 Penonton di Jakarta

Foto Pilihan 26 Agustus 2025
TNI tampil gemilang di Bastille Day 2025 di Paris.

TNI Tampil di Parade Bastille Day 2025, Simbol Eratnya Kemitraan Indonesia–Prancis

Foto Pilihan 15 Juli 2025
Artotel Wanderlust dan Prambanan Jazz Festival

Jazz Night PJF 2025 di ARTOTEL TS Suites Surabaya Hadirkan Nuansa Musik Intim dan Penuh Warna

Foto Pilihan 15 Juni 2025
Berita Pilihan
Ilustrasi Bitcoin (foto: Karolina Grabowska, pexels)

Bitcoin Anjlok di Tengah Konflik AS-Iran, Pasar Kripto Global Kehilangan Triliunan Rupiah

29 Mei 2026
Naomi Osaka tampil mencuri perhatian di French Open 2026 lewat busana couture berkilau sebelum meraih kemenangan di Paris.

Naomi Osaka Curi Perhatian di French Open 2026 dengan Gaun Emas Berkilau dan Gaya Couture

28 Mei 2026
Crystal Palace menjuarai Liga Conference 2025/26 usai mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 di final. Gelar Eropa pertama The Eagles tercipta di Leipzig.

Crystal Palace Juara Liga Conference 2025/26 Usai Kalahkan Rayo Vallecano di Final

28 Mei 2026
Ruri Agung Wahyuono

ITS Kembangkan Strip Test Kit Pendeteksi Minyak Babi, Praktis untuk Muslim Traveler dan UMKM

27 Mei 2026
Sejumlah pesawat Garuda Indonesia sedang parkir di bandara udara (foto: Ekky Wicaksono, pexels)

Garuda Indonesia Catat OTP Haji 98,21 Persen, Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir

25 Mei 2026
Berita Lainnya
Dwi Wulan Ramadani

Alumni Ekonomi Islam UNAIR Berkiprah di Kebijakan Energi Nasional, Dwi Wulan Ramadani Dorong Transisi Energi Berkelanjutan

3 Juni 2026
Barang bukti kasus perdagangan bagian satwa dilindungi berupa gading gajah di Kabupaten Gianyar, Bali

Perdagangan Gading Gajah di Bali Terbongkar, Berkas Perkara Tersangka Sudah Dinyatakan Lengkap

2 Juni 2026
Sylvester Stallone dalam Rambo: Last Blood (2019)

Rambo: Last Blood (2019): Misi Balas Dendam Terakhir John Rambo yang Menuai Kontroversi dan Sukses di Box Office

2 Juni 2026
© 2026 pilar.ID | beritajatim.com network
  • Beranda
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Arsip Berita
  • Indeks

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.