Jakarta (pilar.id) – Tak banyak user internet yang serius menjaga privacy saat menjelajah dunia internet. Kasus pencurian data lewat peramban yang sedemikian banyak di jagad maya, lebih sering muncul karena pilihan naif browser terpopuler. Bukan terbaik, apalagi paling aman. Paling sial, pilihan yang jatuh karena keterbatasan referensi.
ZDNet, di salah satu tayangannya membuat pernyataan jelas. Apa browser terbaik untuk privasi? “Pilihan kami adalah browser Brave,” tulis mereka.
Di Indonesia, Brave nyaris tak muncul di daftar aplikasi basic di smartphone. Yang ada native browser, atau browser bawaan ponsel, Opera, dan, tentu saja, Chrome.
Di berbagai forum pengguna internet, wacana cookie yang disimpan, pengaturan privasi, dan kecepatan browser jadi tema yang selalu seru. Apalagi jika ruang perdebatan merambah laptop atau desktop. Orang bisa berantem hebat dengan bendera Chrome vs Firefox. Atau Opera vs UC Browser.
Tentu, akhirnya kembali ke persoalan selera. Tapi, kini kita bicara tentang sebuah perubahan besar yang sedang terjadi dalam web dengan taburan sponsori iklan. Dan browser, diam-diam berubah jadi medan pertempuran utama untuk privasi pengguna.
Meskipun Chrome sejauh ini merupakan browser yang paling banyak digunakan di dunia, ada browser alternatif dan cara untuk meningkatkan privasi Anda saat menggunakan Chrome.
Dr Lukasz Olejnik, peneliti dan konsultan privasi independen, menemukan fakta mengejutkan. Bahwa riwayat penelusuran web dapat digunakan oleh perusahaan iklan online untuk sidik jari browser individu dari waktu ke waktu.
Temuan ini diteruskan para peneliti Firefox Mozilla. Tahun 2020, dengan melibatkan 52 ribu pengguna Firefox, mereka mengkonfirmasi temuan Olejnik. Hingga pembicaraan itu bersimpul dalam peringatan tentang Google dan Facebook yang lebih ketat pada iklan online membuat praktik identifikasi ulang melalui riwayat penelusuran jadi masalah privasi yang lebih mendesak saat ini.
Pengganti FLoC (Federated Learning of Cohorts) Google untuk cookie pihak ketiga, yang rencananya akan diblokir oleh Google pada tahun 2022, sekarang sedang diuji coba dengan beberapa pengguna Chrome di AS dan pasar lain kecuali Eropa. Katanya, Google akhirnya mengakui jika FLoC mungkin tidak kompatibel dengan Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) Uni Eropa.
“Sidik jari akan tetap ada dan penghapusan cookie pihak ketiga memang tidak berdampak pada teknik ini,” kata Olejnik.
Lalu beberapa orang mulai bicara tentang Brave, browser berbasis Chromium yang secara default memblokir iklan, sidik jari, dan pelacak iklan. Januari 2022 lalu, Brave mengumumkan jumlah pengguna mereka telah melewati angka 50 juta user aktif bulanan. Bandingkan dengan pengguna Chrome di desktop dan seluler yang angkanya sudah mencapai 3,3 miliar.
Model bisnis Brave mengandalkan iklan pelindung privasi yang dapat membayar penerbit dan pengguna dengan Basic Attention Token (BAT) ketika pengguna memperhatikan iklan.
Brave lahir dari tangan dingin Brendan Eich, desainer dan pakar pemrograman. Namanya juga tercatat sebagai salah satu pendiri Mozilla dan Firefox.
Sejak diluncurkan hingga kini, Brave menorehkan image ‘privasi Brave tanpa cacat’. Kalaupun pernah ada insiden, Eich pada tahun 2020, pernah meminta maaf kepada pelanggan setelah ketahuan membagikan jawaban pelengkapan otomatis default dengan pertukaran mata uang kripto afiliasi. Dan ini terjadi sebelum Brave diluncurkan.
Studi terbaru Profesor Douglas J. Leith di Trinity College di University of Dublin, Brave disebut sebagai browser berbasis Chromium paling personal melampaui Google Chrome, Mozilla Firefox, Apple Safari, dan Microsoft Edge.
Leith menyebutkan, banyak browser berkomunikasi dengan server backend masing-masing pembuat browser. Tapi ini tidak berlaku dengan Brave yang tidak menggunakan pengenal apa pun, sehingga memungkinkan alamat IP tidak dilacak, dan tidak membagikan detail halaman web yang dikunjungi dengan server backendnya.
Sebaliknya, Chrome, Firefox, dan Safari, menandai data telemetri dengan pengenal yang ditautkan ke setiap instance browser.
Leith menjelaskan, Brave ternyata menghapus banyak kode Google untuk meningkatkan privasi pengguna dan juga menentang proposal ID FLoC Google, yang mulai diluncurkan ke pengguna Chrome tetapi tidak akan diaktifkan di Brave.
Brave memiliki beberapa pengaturan peningkatan privasi dengan opsi untuk memblokir pelacak iklan pihak ketiga, sakelar untuk meningkatkan koneksi tidak aman ke HTTPS, pemblokiran cookie, dan pemblokiran sidik jari. Pengguna dapat menyesuaikan ini di bagian pengaturan, perisai, hingga privasi dan keamanan.
“Jika saya harus memilih antara cookie pihak ketiga atau FLoC, saya akan memilih FLoC. Tapi itu semua tergantung pada desain dan konfigurasi akhir. Perhatian harus diberikan dalam desain untuk menghindari risiko kebocoran data,” kata Olejnik.
Dalam pengujian versi awal, lanjutnya, ia memverifikasi bahwa kebocoran riwayat penelusuran web memang mungkin terjadi. “Tetapi saya yakin bahwa solusi akhir harus memiliki beberapa pengaturan privasi yang dirancang dan diterapkan. Dalam pengujian FloC saat ini, ini tidak terjadi,” tegasnya. (hdl)





