Jakarta (pilar.id) – Tuti, 38 tahun, kewalahan melayani calon pembeli. Mulutnya tak berhenti menjawab orang yang bertanya soal harga dan model pakaian yang dipajang di etalase. Tawar menawar harga tak dapat dihindarkan. Alot. Meski sebagian berbuntut transaksi sama-sama senang.
Di ruang 3×3 meter, dia hanya ditemani seorang pekerja. Meskipun terlihat kewalahan, tidak bisa dibohongi bahwa momen Lebaran tahun ini membuat raut wajah pedagang busana muslim itu semringah. Dia kebanjiran pembeli.
Tak adanya aturan kuncitara dari pemerintah membuat Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali membludak. Ramainya pengunjung dalam memburu pakaian menandakan ekonomi Indonesia mulai bergeliat lagi. Daya beli masyarakat meningkat ketimbang dua tahun lalu.
“Alhamdulillah, tahun ini omzet kita naik sekitar 50 persen dibanding dua tahun sebelumnya,” kata Tuti sembari membungkus pakaian milik pembeli kepada Pilar.id, Sabtu (24/4/2022).
Tuti berjualan di Tanah Abang sudah hampir 5 tahun. Tokonya kebanjiran order dan pembeli sejak sepekan terakhir. Ia menjual berbagai jenis busana muslim pria dan wanita, dewasa maupun anak-anak.
Pembeli pakaian muslim Tuti datang dari berbagai tempat, utamanya wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
“Tahun ini langganan saya sudah datang lagi. Mereka belinya tidak satuan, tapi lusinan karena mereka pedagang juga. Tapi banyak juga yang beli baju satuan, biasanya dipakai sendiri untuk momen Hari Raya Idulfitri,” kata dia.
Berdasarkan pantauan Pilar.id, situasi di Pasar Tanah sangat ramai. Kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan, terutama memakai masker, terlihat sudah meningkat. Meskipun ada juga pengunjung yang bandel tidak memakai masker.
Berjubelnya orang membuat jaga jarak aman sesuai anjuran pemerintah, mustahil dilakukan. Kondisi di luar tak jauh berbeda. Jangankan kendaraan, orang saja sulit untuk lalu lalang.

Yohana adalah salah satu pengunjung Pasar Tanah Abang yang merasakan momen itu. Meskipun Pasar Tanah Abang ramai bukan main, perempuan 35 tahun itu tetap rela datang dari Bekasi menggunakan moda transportasi kereta commuter line untuk membeli pakaian Lebaran.
Ia datang ditemani dua anaknya. Harga yang miring serta banyak pilihan model pakaian, adalah alasan dirinya jauh-jauh dari rumahnya di Bekasi ke pasar yang sudah ada sejak 30 Agustus 1735 itu.
“Di sini harganya kan murah kalau dibandingkan di pasar biasa atau di mal jauh lah,” kata Yohana.
Dia mengaku, ini kali pertama dirinya ke Pasar Tanah Abang lagi selama pagebluk melanda. Dirinya bersyukur momen Idulfitri tahun ini lebih baik daripada dua tahun lalu. “Kami akhirnya sekeluarga bebas berpergian untuk belanja pakaian. Kalau tahun lalu kan dibatasi. Mau ke mana-mana susah karena covid-19 masih parah,” ujarnya. (her/hdl)









