Jakarta (pilar.id) – Dalam budaya masyarakat Islam, bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan istimewa. Dimana, dalam sejarahnya, banyak kejadian luar biasa yang berlangsung di bulan Sya’ban.
Selain itu, ada momen nisfu sya’ban yang dinilai sebagai salah satu waktu mustajab ketika doa-doa umat muslim akan lebih mudah didengar dan diijabah.
Malam nisfu sya’ban juga disebut sebagai malam penghapusan dosa umat muslim jelang memasuki bulan suci Ramadhan. Dimana, mereka yang mau mengamalkan sejumlah amalan baik tertentu dijanjikan pengampunan dosa selama satu tahun ke depan.
Salah satu amalan yang kerap dilakukan saat malam nisfu Sya’ban adalah membaca doa Nisfu Sya’ban yang kemudian diikuti dengan pembacaan Surat Yasin sebanyak tiga kali.
Namun, dalam pelaksanaannya, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia memiliki cara dan penyebutan yang beragam. Ada banyak tradisi masyarakat yang hidup mengiringi peringatan nisfu sya’ban ini.
Laku dan ragam tradisi jelang peringatan nisfu sya’ban pun berbeda-beda di tiap daerah sesuai dengan perjalanan penyebaran islam yang ada di sana.
Berikut ini beberapa tradisi masyarakat di Indonesia jelang atau saat peringatan Nisfu Sya’ban:
1. Ruwah Kubur
Tradisi Ruwah Kubur ini telah jadi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan di tahun 2015 lalu.
Tradisi Ruwah Kubur menjadi salah satu momen sakral layaknya perayaan hari raya bagi masyarakat di Desa Keretak, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah.
Tradisi Ruwah Kubur ini, dilaksanakan oleh masyarakat Desa Keretak setiap tanggal 12 Ruwah atau 12 Sya’ban. Dimana, seluruh masyarakat desa bersama-sama berdoa di sekitar makam yang ada di daerahnya.
Masyarakat Desa Keretak dalam perayaan Ruwah Kubur ini, menggelar berbagai ritual seperti yasinan dan tahlilan yang dilakukan secara serentak.
2. Haroa
Tradisi Haroa merupakan salah satu ritual budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara.
Dalam bahasa masyarakat Muna, Haro memiliki arti sapu atau membersihkan. Tradisi Haroa juga lekat dengan sesajen yang disiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan.
Kegiatan haroa ini, biasanya dilakukan pada malam nisfu sya’ban dengan menyediakan sesajen berupa nasi minyak tertutup telur yang berada di tengah talang.
Tradisi haroa ini telah hidup dan menjadi salah satu warisan budaya yang dilakukan secara turun-temurun.
Pelaksanaan tradisi Haroa ini, biasanya berlangsung pada malam hari selepas Magrib atau Isyak. Dimana, di hari itu, sebelum melaksanakan haroa, masyarakat Muna lebih dahulu akan melakukan ziarah kubur di makam para leluhur.
Ziarah makam leluhur ini dilangsungkan pada pagi, siang, maupun saat sore hari.
3. Baratan
Tradisi Baratan merupakan salah satu ritual yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Jepara dalam memperingati nisfu sya’ban.
Dalam tradisi Baratan, masyarakat Jepara akan melakukan arak-arakan lampion setiap tanggal 15 Sya’ban. Selain untuk memperingati nisfu Sya’ban, tradisi Baratan ini juga lekat dengan sejarah masyarakat di Jepara terutama yagn berada di wilayah Kalinyamatan.
Tradisi baratan berkaitan erat dengan peristiwa pembunuhan Sultan Hadirin , suami Ratu Kalinyamat, yang dilakukan oleh Arya Penangsang.
Konon pada waktu itu terjadi saat menyambut iring-iringan rombongan yang membawa jenazah Sultan Hadirin dan masyarakat banyak membawa impes atau lampion sepanjang jalan sebagai kehormatan dan terjadi bertepatan dengan Nisfu Sya’ban.
Sebelum menggelar arak-arakan lampion, masyarakat di Jepara lebih dahulu membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali dan membaca doa Nisfu Sya’ban. (fat)









