Surabaya (pilar.id) – Sebuah tim mahasiswa dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR) telah berhasil mendapatkan pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud Ristek.
Dengan topik biopestisida, mereka berharap dapat menangani vektor penyakit seperti nyamuk dengue (aedes agepty) dan malaria (anopheles). Tim ini mengusung judul “Formulasi Bacillus thuringiensis sebagai Biopestisida Pembasmi Larva Nyamuk dengan Uji Sampel pada Aedes Aegypti dan Anopheles”.
Anggota tim terdiri dari Satrio Achmad Fayis, Deva Cantika, Margaretha Mei Utomo, Brigade Mahendra Dharmalaksana, dan Isac Muhamad Kahlil Gibran, yang berasal dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) serta Fakultas Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA). Tim ini dibimbing oleh Dr Riries Rulaningtyas ST MT.
Penelitian mereka akan difokuskan pada penanganan larva nyamuk yang menjadi masalah utama di berbagai wilayah, terutama di Indonesia yang beriklim tropis. Iklim tropis ini menyebabkan banyaknya habitat bagi nyamuk untuk berkembangbiak.
Fayis menjelaskan bahwa penelitian ini akan mengklarifikasi penggunaan biopestisida, yaitu mikroorganisme yang digunakan untuk mengendalikan hama. Biopestisida meliputi mikroba seperti bakteri, jamur, virus, dan protozoa sebagai bahan aktif. Tim memutuskan untuk menggunakan mikroba bakteri Bacillus thuringiensis sebagai bahan aktif dalam biopestisida mereka.
“Penggunaan Bacillus thuringiensis dipilih karena memiliki sifat toksis terhadap larva nyamuk, tetapi aman bagi manusia dan lingkungan,” ungkap Fayis.
Tim ini berharap agar biopestisida yang mereka kembangkan dapat efektif dalam mengendalikan vektor penyakit dengue dan malaria, dengan fokus pada pengendalian populasi larva nyamuk. Dengan demikian, risiko kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh nyamuk dapat berkurang.
“Yang membedakan penelitian kami adalah penggunaan Bacillus thuringiensis sebagai agen pengendalian,” tambahnya.
Selain itu, penelitian ini juga mempertimbangkan aspek keamanan manusia dan lingkungan, pengelolaan resistensi pada nyamuk, serta fokus pada pencegahan melalui penanganan larva nyamuk.
Tim ini berharap penelitian mereka dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dengan membantu mengurangi penyebaran penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti dan anopheles.
Dengan tingkat toksisitas yang rendah terhadap manusia dan organisme non-target, penggunaan biopestisida ini dapat mengurangi risiko terhadap kesehatan manusia dan dampak negatif terhadap lingkungan dibandingkan pestisida kimia.
“Penggunaan biopestisida kami diharapkan dapat mengurangi resistensi nyamuk terhadap pestisida konvensional, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” tutupnya. (ted)










