Ponorogo (pilar.id) – Ketersediaan beras dipastikan aman hingga perayaan Lebaran tahun 2024. Pasokan ini semakin terjamin dengan masuknya bulan Maret yang merupakan awal panen raya padi.
Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdagkum) Ponorogo telah memantau stok beras di pasar secara langsung.
Kepala Bidang Perdagangan Disperdagkum Ponorogo, Niswandri Prasojo, mengatakan bahwa harga beras di pasar masih sedikit di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Namun, kenaikan harga hanya sekitar Rp 500 per kilogram. Dia menambahkan bahwa tren harga beras cenderung menurun, menunjukkan ketersediaan barang yang cukup. “Kami memprediksi harga akan terus turun karena Maret sudah memasuki panen raya,” ungkapnya.
Niswandri menjelaskan bahwa kenaikan harga beras belakangan ini disebabkan oleh faktor cuaca yang tidak mendukung serta peningkatan kebutuhan masyarakat yang tidak seimbang dengan pasokan.
“Harga beras tidak bisa dipisahkan dari harga gabah sebagai bahan bakunya. Jika harga gabah naik, maka harga beras akan ikut naik karena keduanya merupakan satu kesatuan komoditas,” jelasnya.
Dia juga menyebut bahwa pada Rabu (21/2/2024), telah diadakan rapat besar di Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Madiun untuk memastikan stok beras di pasaran aman menjelang Hari Raya Idul Fitri 2024.
Rapat ini dihadiri oleh perwakilan dari Bulog Jawa Timur serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten dan kota di wilayah Madiun. “Hasil rapat menunjukkan bahwa persediaan beras dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih aman,” tambahnya.
Sementara itu, Suhartiningsih, seorang pedagang beras di Pasar Legi Ponorogo, mengonfirmasi bahwa harga beras mulai turun.
Harga beras medium yang awalnya Rp 14.500 per kilogram, kini turun menjadi Rp 14.200 dengan berat satuan yang sama. Begitu juga dengan harga beras premium yang sebelumnya Rp 15.100 per kilogram, turun menjadi Rp 14.800. “Harga beras masih cenderung turun, terutama dengan mulainya panen padi oleh petani,” ujarnya. (ret/hdl)










