Surabaya (pilar.id )- Dalam meraih cita-cita perlu adanya niat yang kuat, meski waktu yang dinanti tak kunjung tiba, namun mempercayai semua akan indah pada waktunya dapat membuat kita tetap semangat dalam menggapai sebuah impian.
Hal itulah yang dialami oleh Antarizkia Riris. Finalis Cak dan Ning Surabaya 2021 ini bercerita, jika dirinya sudah lama mendambakan menjadi bagian dari keluarga Cak, Ning Surabaya. Namun saat itu, usianya belum mencukupi syarat. Hingga akhirnya ia harus menanti cukup lama.
“Sejak tahun 2015 saya sudah punya keinginan ikut Cak,Ning Surabaya, karena terinspirasi dari kakak dan Mama yang pernah jadi duta wisata juga. Namun umurku masih 15 tahun, jadi terpaksa harus menunggu, sedang minimal usaibharus 17 tahun,” kenangnya
Dua tahun berlalu, saat dirinya menginjak usia 17 tahun. Keinginan itu, kembali terkubur, dikarenakan dirinya harus menuntaskan pendidikan D3nya di Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya.
“Saat itu saya sudah jadi Taruni, tinggal di Asrama dan harus fokus. Sempat pupus harapan untuk ikut Cak,Ning Surabaya,” cerita perempuan 21 tahun ini.
Meski begitu, Riris nama panggilannya ini tak lantas menggugurkan minatnya dan impiannya untuk ikut Cak,Ning Surabaya. Hingga di tahun 2020, saat dirinya usai menggenapi pendidikan D3 nya. Setahun setelahnya, di tahun 2021, Riris akhirnya membulatkan tekad untuk mengikuti kompetisi bergengsi tahunan itu
” Saat malam hari, ketika pendaftaran akan ditutup. Saya coba-coba ikut daftar, kalau tidak keterima di penyisihan awal, ya ndak papa. Namun, jika berlanjut, akan saya tuntaskan sampai selesai,” ceritanya.
Tak terduga, dirinya terus berlanjut hingga ia diberi tempat oleh Cak, Ning Surabaya sebagai Ning Persahabatan. Walau begitu, ia merasa 15 finalis Cak,Ning Surabaya lainnya merupakan teladan baik bagi anak-anak muda Surabaya.
“Sebelum saya mengikuti kompetisi ini, saya harus menata kembali minat, mindset untuk menjadi contoh yang baik. Jadi tak semata hanya jadi Ning, namun juga harus menjadi teladan yang baik dan berkontribusi bagi Jawa Timur dan Indonesia,” jabarnya.
Selama mengikuti Cak, Ning Surabaya selama kurang lebih 2 minggu. Banyak pelajaran yang didapat Riris. Terlebih saat karantina, dirinya harus mencoba mengakrabkan diri dengan keluarga barunya di Cak,Ning Surabaya
“Belajar banyak hal, seperti cara makan, berbicara, menjaga kepribadian serta belajar sikap saat di atas panggung dan lainnya,” sebut perempuan yang kini bekerja di Politeknik Penerbangan Surabaya sebagai Staf Sub Bagian Administrasi Ketarunaan dan Alumni.
Tak hanya itu, saat mengikuti Cak, Ning. Riris tengah melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas PGRI Adi Buana jurusan Teknik sebagai mahasiswa transfer. Mau tak mau, perempuan yang sudah pernah menjadi Ning di kampus sebelumnya ini, harus membagi waktu antara kuliah, kerja dan kegiatannya di Cak, Ning Surabaya
“Sempat mengeluh sama mama, tapi mama bilang, mau jadi orang sukses itu harus ada yang dikorbankan, harus siap jatuh, yang penting jangan nyerah. Jalani saja, dari perkataan itu, saya bertekad tidak akan menyerah, sampai titik terakhir,” tegasnya.
Riris juga menjelaskan, jika dirinya rutin membuat time table kegiatan setiap hari, serta menentukan skala prioritas yang bertujuan agar hal lain tidak berantakan.
“Semua itu bisa kita atur, jika kita komunikasi serta mengkoordinasikannya dengan baik. Meski begitu, management waktu ku juga sudah diatur oleh Tuhan,” ucapnya.
Sebagai Ning Persahabatan, banyak kegiatan yang akan dikerjakan, seperti kegiatan sosial dalam memajuka pariwisata dan ekonomi kreatif, serta beberapa proker lainnya
“Dalam waktu dekat, kita akan mengeksplor wisata di Surabaya yang belum terjamah atau yang sudah ada namun jarang dikunjungi,” bebernya.
Kini, Riris masih fokus pada pengembangan program kerjanya di Cak, Ning Surabaya. Namun ia juga berkeinginan mengikuti kompetisi lain, jika ada kesempatan “Ya harus di coba, kenapa enggak,” tutup Riris tertawa. (jel)










