Tulungagung (pilar.id) – Akibat hujan ekstrem beberapa waktu lalu di Tulungagung, dua desa, yaitu Desa Bono dan Ngranti, tergenang banjir.
Saat banjir, tikus yang biasanya berada di persawahan, berdatangan ke pemukiman warga untuk mencari tempat kering.
Serbuan tikus tersebut, dikhawatirkan dapat memunculkan kembali penyakit Leptospirosis yang pernah di temukan riwayatnya di dua desa pada tahun 2019 lalu dan kemungkinan bakteri tersebut masih ditemukan dalam tubuh tikus.
Maka dari itu, seperti yang disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung Didik Eka di Tulungagung, pihaknya akan mengambil sampel ginjal pada empat ekor tikus liar yang ditangkap di daerah endemi Leptospirosis.
“Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi merebaknya penyakit menular mematikan tersebut di masyarakat dan sebagai bentuk kewaspadaan kami terhadap leptospirosis,” kata Didik, Sabtu (5/11/2022)
Selanjutnya, Ginjal tikus yang sudah terambil akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan penelitian, dan mengetahui ada atau tidaknya ginjal tikus tersebut, mengandung bakteri leptospira.
“Jika ditemukan, Dinkes Tulungagung akan segera melakukan pemeriksaan dalam skala lebih luas kepada masyarakat, untuk mengetahui riwayat penularan bakteri sejenis ke manusia,” jabarnya.
Selain itu, pihaknya akan merekomendasikan pembasmian untuk pengendalian hama tikus di lingkungan dekat pemukiman penduduk, terutama di daerah yang dinyatakan berstatus endemis.
Tak hanya itu, pada dua desa ini, Dinkes Tulungagung sudah memasang sedikitnya 50 alat jebakan tikus, untuk mengambil sampel ginjal lebih banyak, agar memperkuat akurasi penelitian terhadap potensi wabah leptospirosis di lingkungan pemukiman.
Lebih lanjut, Didik menyampaikan mengenai gejala leptospirosis pada manusia, yaitu ditandai dengan kondisi badan mengalami panas tinggi, kulit kelopak mata bagian dalam menguning, serta nyeri perut yang disertai pengerasan pada organ ginjal.
Sebelumnya, diketahui kasus leptospirosis di Tulungagung sempat mendorong peningkatan kewaspadaan tinggi, seiring teridentifikasi 12 orang terjangkit leptospira pada 2012.
“Temuan kasus saat itu tersedar di Kecamatan Gondang, Sendang, Boyolangu, dan Tulungagung, maka dari itu sebelum merebak, kita lakukan pencegahan,” pungkasnya. (jel/hdl)


