Surabaya (pilar.id) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menghadiri gala premier dan pemutaran film Lara Ati di Grand City Mall, Surabaya, Kamis (8/9/2022).
Hadir bersama para pemeran film Lara Ati, Emil nampak sangat menikmati film yang membawa semangat kedaerahan dan didominasi seniman lokal Jawa Timur dan Jawa Tengah ini.
Selain Bayu Skak, sutradara dan pemeran utama dalam film ini, hadir pula Cak Kartolo, Dono Pradana, Tatjana Saphira, Sahila Hisyam, Ciccio Manassero, Benedictus Siregar, Ning Tini, dan Indra Pramujito.
“Selamat untuk mas Bayu Skak, lulusan dari SMKN 4 Malang, salah satu sekolah unggulan animasi dan IT, top banget jadi inspirasi untuk anak anak Jawa Timur, teruslah berkarya dan menjadi inspirasi bagi anak anak muda kita di era ekonomi kreatif,” pesan Emil.
Di mata Emil, Bayu Skak memiliki sisi idealisme dan keberanian untuk membuat film yang memiliki unsur budaya lokal yang sangat kental. “Hal ini tentu akan menjadi inspirasi bagi perfilman di Indonesia,” kata Emil.
Munculnya film-film seperti ini, kata Emil, membuktikan jika Indonesia memang kaya akan ragam budaya, termasuk dialek dan local culture.
“Jadi nggak habis inspirasi mau bikin film di Indonesia, termasuk di Jawa Timur,” tegasnya. “Seneng ndelok sak Indonesia gelem nontok film boso Jowo (senang melihat orang se-Indonesia mau melihat film berbahasa Jawa),” tambahnya sambil tersenyum.
Dalam kesempatan itu, Emil pun mengajak seluruh masyarakat Jawa Timur menyaksikan film Loro Ati ini.
“Mewakili Pemprov Jatim, kami bangga, teruslah berkarya, apapun itu, naik turun jalan terus jangan pernah berhenti, kita semua bangga dengan perjuangan dari Mas Bayu Skak. Mudahan ini akan terus berlanjut, saya mengajak seluruh masyarakat Jawa Timur untuk dapat menyaksikan film ini,” kata Emil lagi.
90 Persen Bahasa Jawa
Sutradara sekaligus pemeran utama dalam film Lara Ati, Bayu Skak, mengatakan jika projek ini dibuat dengan percaya diri. Ia juga berani mengangkat unsur kedaerahan guna disaksikan seluruh masyarakat se-Indonesia.
“Projek ini sangatlah ‘pede’ sekali untuk mengangkat unsur kedaerahan, hampir 90 persen menggunakan bahasa daerah, yakni Bahasa Jawa, dan ‘pede’ sekali ditayangkan di seluruh nasional,” ucap Bayu Skak.
Ia pun percaya, penayangan film ini akan memberikan dampak yang luas layaknya seperti gerbong kereta, dimana ada promosi bagi produk khas daerah Jawa Timur di dalamnya.
“Karya kreatif upaya yang sangat efektif untuk menarik efek lainnya, seperti gerbong kereta, misalnya saya syuting di Surabaya, tentu ada promosi produk UMKM Surabaya disitu begitu juga daerah lainnya,” kata Bayu Skak. (feb/hdl)








