Jakarta (pilar.id) – Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, sulit untuk memastikan apakah varian Omicron sudah masuk ke Indonesia atau belum. Namun, dia menegaskan yang terpenting adalah mitigasi karena covid-19 sudah memasuki tahun ketiga.
Dengan begitu, kata dia, pemerintah seharusnya sudah paham karena sudah mempunyai bekal yang cukup.
“Tidak usah takut kalau ada Omicron. Tidak usah jadi masalah karena kita sudah punya dasar dan pengalaman. Kan kita sekarang juga punya modal besar dengan orang yang sudah divaksin lebih banyak, ujar Dicky saat dihubungi Pilar.id, Kamis (9/12/2021).
Dia menyebut, yang terpenting adalah melakukan mitigasi untuk menemukan dengan cepat dan lebih awal, untuk mencegah penyebarannya lebih luas. Dicky menjelaskan, sekalipun di Indonesia ditemukan varian Omicron, hal itu bukanlah sebuah aib. Sebab, memang tidak ada negara yang bisa menghindari.
“Meskipun menutup diri ya jebol juga. Apalagi Indonesia ini tinggal masalah waktu saja. Karena semakin lama ya berbahaya juga karena kita besar banget kemungkinannya. Sehingga harus ditemukan surveilans yang efektif,” kata dia.
Ketika ditemukan varian Omicron, dia mengatakan, orang yang terpapar harus cepat dilakukan karantina.
Kuncinya sekali lagi adalah memitigasi, karena ini berpacu dengan waktu, dan sekali lagi data-data Omicron ini semakin mengkawatirkan terus terang,” sambungnya.
Sebelumnya, beredar informasi di media sosial dan media massa bahwa telah ditemukannya 4 kasus varian baru virus corona B.1.1.529 atau omicron sudah sampai di Indonesia, lebih tepatnya di DKI Jakarta.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) yang terus dilakukan pemerintah secara intensif, varian baru covid-19 omicron belum terdeteksi di Indonesia.
Informasi ini, kata dia, sekaligus mengklarifikasi sejumlah pemberitaan yang mengatakan adanya pasien yang terpapar varian baru omicron.
“Namun demikian, kami terus mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan jangan sampai lengah dalam menjalankan protokol kesehatan yang ketat,” kata Nadia. (her)










