Jakarta (pilar.id) – Tren konten mistis yang belakangan ramai di media sosial menjadi inspirasi lahirnya film komedi horor terbaru berjudul Cek Khodam. Film produksi Dee Company ini menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern, di mana ketakutan terhadap makhluk gaib mulai tergeser oleh berbagai persoalan ekonomi dan tekanan kehidupan sehari-hari.
Mengusung konsep segar yang memadukan unsur komedi dan horor, Cek Khodam menyoroti perubahan cara pandang masyarakat terhadap dunia mistis. Jika dahulu sosok hantu dan makhluk tak kasatmata identik dengan rasa takut, kini fenomena tersebut justru kerap menjadi hiburan dan bahan candaan di berbagai platform digital.
Dee Company menjelaskan bahwa film ini berangkat dari realitas sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Popularitas konten-konten bertema khodam, paranormal, hingga dunia gaib di media sosial telah menciptakan fenomena baru, di mana unsur mistis tidak lagi selalu dianggap menakutkan.
Cerita berpusat pada tiga sahabat bernama Sakti, Wira, dan Bima yang mencoba memanfaatkan tren tersebut dengan membuat konten bertajuk “Cek Khodam”. Tanpa mereka sadari, aktivitas tersebut memicu perubahan besar yang berdampak pada dunia gaib.
Karakter Sakti diperankan oleh Jirayut, sementara Wira dimainkan Saputra Kori dan Bima diperankan Benidictus Siregar. Ketiganya menjadi sosok yang secara tidak langsung menyebabkan menurunnya Angka Ketakutan Manusia (AKM), sebuah indikator fiktif yang menggambarkan tingkat rasa takut manusia terhadap makhluk gaib.
Dalam alur cerita, menurunnya AKM membuat para penghuni dunia gaib kehilangan wibawa. Hantu dan khodam yang selama ini ditakuti manusia justru berubah menjadi objek hiburan yang sering dijadikan bahan lelucon. Situasi tersebut memaksa Panglima Khodam turun langsung ke dunia manusia untuk mengembalikan martabat dunia gaib.
Misi yang awalnya bertujuan mengembalikan rasa takut manusia itu justru berkembang menjadi serangkaian kekacauan yang memicu berbagai adegan komedi. Semakin keras usaha para khodam untuk menakut-nakuti manusia, semakin absurd pula peristiwa yang terjadi.
Premis tersebut menjadi kekuatan utama Cek Khodam. Film ini tidak hanya mengandalkan elemen horor konvensional, tetapi juga menyajikan satire sosial mengenai perubahan budaya masyarakat digital yang semakin akrab dengan konten mistis sebagai hiburan sehari-hari.
Di tengah meningkatnya popularitas konten paranormal dan cek khodam di media sosial, film ini mencoba menangkap fenomena tersebut dalam bentuk hiburan layar lebar yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Kehidupan modern yang dipenuhi tantangan ekonomi, tekanan pekerjaan, hingga persoalan finansial digambarkan sebagai sumber ketakutan baru yang dianggap lebih nyata dibanding gangguan makhluk halus.
Film Cek Khodam diproduseri oleh Dheeraj Kalwani dan disutradarai oleh Jeropoint. Selain duduk di kursi sutradara, Jeropoint juga terlibat dalam penulisan naskah bersama Sandikagusti dan Shintapuji.
Tidak hanya menghadirkan Jirayut, Saputra Kori, dan Benidictus Siregar sebagai pemeran utama, film ini juga diperkuat sejumlah nama yang dikenal luas di dunia hiburan dan media sosial, seperti Kak Gem, Tante Lala, Angie Williams, Fahira Almira, Roewina Umboh, hingga Fanny Fadillah.
Melalui Cek Khodam, Dee Company berupaya menghadirkan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga merefleksikan perubahan budaya populer di era digital. Film ini menawarkan perspektif unik tentang bagaimana dunia gaib harus beradaptasi dengan generasi yang lebih sibuk menghadapi tantangan hidup dibanding merasa takut pada cerita-cerita mistis.
Dengan premis yang dekat dengan keseharian masyarakat serta dukungan jajaran pemain yang populer di kalangan generasi muda, Cek Khodam berpotensi menjadi salah satu film komedi horor Indonesia yang menarik perhatian penonton saat tayang di bioskop. (ret/hdl)










