Jakarta (pilar.id) – Film terbaru Gal Gadot, Death on the Nile, dipastikan tidak bisa diputar di Lebanon dan Kuwait. Penolakan ini terjadi sebagai bentuk protes terhadap bintang asli Israel tersebut.
Gadot, dulu, pernah bertugas di militer Israel selama dua tahun sebelum menjadi model dan aktris. Atribut Israel Defense Forces (IDF) yang melekat pada diri Gal Gadot ini membuat Lebanon memblokir film Wonder Woman yang dirilis Mei 2017.
Saat itu, pemerintah Lebanon diminta untuk menolak Wonder Woman. Film ini juga dilarang di Qatar. Kini, Death of the Nile akan dirilis di seluruh Timur Tengah pada akhir pekan ini.
Tidak ada permintaan yang dibuat oleh Lebanon atau Kuwait untuk pengeditan apa pun. The Daily Mail, yang pertama kali memiliki berita tentang larangan Death of the Nile di Kuwait, mengutip surat kabar lokal Al-Qabas yang mengatakan bahwa negara itu memutuskan untuk melarang pemutaran film adaptasi daei Agatha Christie yang disutradarai Kenneth Branagh, karena protes di media sosial.
Surat kabar itu juga mengutip sumber resmi negara yang mengatakan bahwa mereka tidak akan memesan film yang dibintangi oleh seorang mantan prajurit Zionis.
Pada Mei 2021, Gadot menonaktifkan komentar Twitter atas unggahan tentang konflik serangan roket Israel–Hamas. Gadot dianggap telah menjalankan propaganda.
Sementara itu, “Death on the Nile” adalah salah satu dari sedikit film AS yang dirilis di China (19 Februari) setelah beberapa film Hollywood terkenal tidak mendapat tanggal rilis pada tahun lalu.
Film ini juga akan diputar di seluruh dunia pada akhir pekan ini kecuali Spanyol pada 18 Februari serta Jepang, Hong Kong, Kroasia dan Hongaria pada 25 Februari. Death on the Nile diharapkan menjadi nomor 1 di box office domestik pada akhir pekan. (ade/hdl/antara)








