Jakarta (pilar.id) – Harga Bitcoin (BTC) belakangan ini mengalami fluktuasi signifikan yang memicu kekhawatiran di kalangan para investor pasar kripto. Dalam dua minggu terakhir, nilai Bitcoin terus merosot, diikuti oleh sejumlah investor yang melakukan penjualan setelah peluncuran ETF Bitcoin pada awal bulan ini.
Harga Bitcoin terakhir mencapai 38.900 Dollar AS, mengalami penurunan sebesar 20,6 persen dari puncak tertingginya di sekitar 49 ribu Dollar AS pada 11 Januari setelah mendapatkan persetujuan ETF Bitcoin dari SEC.
Penurunan ini berhasil menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi pada akhir tahun sebelumnya, ketika peluncuran ETF diharapkan dapat menarik lebih banyak investor ke pasar Bitcoin.
Fyqieh Fachrur, trader dari Tokocrypto, menilai bahwa level harga Bitcoin yang sangat penting saat ini berada di sekitar 40 ribu Dollar AS, dan banyak yang khawatir bahwa pasar bearish akan terus berlanjut hingga kejadian halving yang dijadwalkan pada bulan April.
“Peluruhan besar-besaran oleh FTX melalui Grayscale dan kondisi pasar kripto yang belum positif telah berdampak pada harga Bitcoin. Terdapat juga rumor bahwa FTX sedang menjual GBTC senilai 900 juta Dollar AS, yang mungkin menjadi pemicu penurunan harga,” jelas Fyqieh.
Selain itu, ke depan, Bitcoin dihadapkan pada volatilitas kondisi makroekonomi karena data ekonomi Amerika yang akan dirilis pada akhir bulan ini. Data ini mencakup PDB kuartalan dan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE). Apabila kedua data ini menunjukkan hasil positif, Dolar AS kemungkinan akan menguat sementara waktu, memberikan dampak pada pergerakan Bitcoin.
Ketidakpastian seputar data ekonomi ini juga menjadi faktor sulitnya memprediksi pemulihan harga Bitcoin dalam waktu dekat. Ada kemungkinan besar bahwa harga Bitcoin akan tetap berkisar di sekitar 40 ribu Dollar AS hingga Februari 2024. “Sehingga untuk saat ini belum ada kepastian terkait pemulihan karena masih banyaknya ketidakpastian di pasar. Kemungkinan besar tujuan saat ini berada pada 36 ribu Dollar AS jika kondisi pasar masih terus memburuk menjelang Februari nanti,” analisis Fyqieh.
Pergerakan harga Bitcoin saat ini sangat dipengaruhi oleh penutupan grafik mingguan yang sedang berlangsung. Grafik tersebut menunjukkan bahwa harga Bitcoin telah menembus batas bawah konsolidasi yang kuat di sekitar 40 ribu Dollar AS, mengindikasikan potensi volatilitas lebih lanjut di bawah level tersebut, bahkan dapat turun hingga mencapai 36 ribu Dollar AS.
Kejelasan mengenai tren harga ini diperkirakan akan muncul dalam minggu mendatang, terutama setelah pengumuman kebijakan suku bunga dari The Fed di akhir Januari.
Jika terdapat berita positif dan harga BTC berhasil kembali di atas 40 ribu Dollar AS, maka peluang pemulihan posisi Bitcoin dalam kisaran konsolidasinya antara 40 ribu Dollar AS dan 44 ribu Dollar AS dapat terwujud.
Trader dan investor saat ini cenderung menunggu situasi menjadi lebih pasti, mengingat kondisi yang sangat tidak stabil ditunjukkan oleh Bitcoin dengan volume transaksi yang menurun. (hdl)






