Jakarta (pilar.id) – Pemerintah memberi sinyal kuat bahwa insentif fiskal untuk sektor otomotif berpotensi tidak dilanjutkan pada 2026. Indikasi tersebut menguat seiring pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut hingga kini belum ada keputusan lanjutan terkait stimulus tersebut.
Menurut Purbaya, pemerintah masih melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas insentif otomotif yang telah diberikan sebelumnya. Evaluasi tersebut mencakup dampaknya terhadap penjualan kendaraan, kinerja industri, hingga penciptaan lapangan kerja. Hingga saat ini, Kementerian Keuangan juga belum menerima proposal final dari Kementerian Perindustrian sebagai dasar pengambilan keputusan.
Pernyataan tersebut sekaligus mempertegas bahwa stimulus fiskal untuk sektor otomotif tidak lagi menjadi prioritas utama pemerintah pada tahun depan. Pemerintah menilai kinerja penjualan mobil nasional lebih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro dibandingkan kebijakan insentif.
Menkeu Purbaya menilai penurunan penjualan mobil sepanjang 2025 terutama disebabkan oleh perlambatan ekonomi yang terjadi pada sekitar sepuluh bulan pertama tahun tersebut. Sementara itu, dalam beberapa bulan terakhir, penjualan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan seiring membaiknya aktivitas ekonomi.
Pemerintah, kata Purbaya, kini lebih memusatkan perhatian pada upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar bergerak lebih cepat. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, pemerintah meyakini daya beli masyarakat akan meningkat dan secara alami mendorong penjualan kendaraan bermotor tanpa perlu dukungan insentif tambahan.
Ia juga menilai tren penjualan otomotif saat ini telah bergerak ke arah positif setelah sempat tertekan cukup dalam. Menurutnya, perbaikan tersebut lebih mencerminkan membaiknya kondisi ekonomi dalam beberapa bulan terakhir, bukan dampak langsung dari kebijakan insentif.
Dalam pandangan pemerintah, kunci pemulihan industri otomotif nasional terletak pada penguatan daya beli masyarakat dan percepatan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Oleh karena itu, pendekatan kebijakan fiskal ke depan akan lebih diarahkan pada pemulihan ekonomi struktural ketimbang pemberian stimulus sektoral.
Sikap ini menandai potensi perubahan arah kebijakan fiskal pemerintah. Insentif otomotif yang selama ini diharapkan menjadi penopang industri berisiko ditiadakan pada 2026, seiring keyakinan pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih solid akan menjadi motor utama pemulihan industri otomotif nasional. (ret/hdl)










