Jakarta (pilar.id) – Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, mengumumkan capaian luar biasa dalam penerimaan kepabeanan dan cukai hingga akhir Januari 2024, yang mencapai total Rp22,9 triliun.
Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis (22/2/2024), Sri Mulyani merinci bahwa dari jumlah tersebut, bea masuk menyumbang Rp3,9 triliun, bea keluar sebesar Rp1,2 triliun, dan penerimaan cukai mencapai Rp17,9 triliun.
Realisasi bea masuk sebesar Rp3,9 triliun mencapai 6,7 persen dari target APBN. Faktor-faktor yang memengaruhi capaian ini antara lain tarif efektif sebesar 1,38 persen, utilisasi perjanjian perdagangan bebas (FTA) sebesar 35,0 persen, dan kurs rata-rata Rp15.526 per dolar AS.
Sri Mulyani menjelaskan bahwa pelemahan impor dan penurunan tarif efektif turut berkontribusi pada pencapaian tersebut.
Sementara itu, bea keluar sebesar Rp1,2 triliun mencapai 6,6 persen dari target APBN. Bea keluar tembaga sebesar Rp1,0 triliun dipengaruhi oleh relaksasi ekspor komoditas tembaga, sedangkan bea keluar produk sawit sebesar Rp117,8 miliar terpengaruh oleh penurunan harga.
Penerimaan cukai sebesar Rp17,9 triliun, atau 7,3 persen dari target APBN, mencakup penerimaan cukai hasil tembakau sebesar Rp17,5 triliun.
Menurut Menteri Keuangan, pola pelunasan yang maju dari awal Januari 2024 ke Desember 2023 memengaruhi capaian ini. Penerimaan dari cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) dan etil alkohol masing-masing tercatat sebesar Rp0,5 triliun dan Rp12,9 miliar.
Penerimaan pajak pada Januari 2024 mencapai Rp149,25 triliun, setara dengan 7,5 persen dari target APBN. PPh nonmigas menjadi kontributor terbesar dengan Rp83,69 triliun atau 7,87 persen dari target, diikuti oleh PPN dan PPnBM senilai Rp57,76 triliun atau 7,12 persen dari target. Penerimaan dari PPh migas tercatat Rp6,99 triliun atau setara dengan 9,15 persen dari target.
Meskipun mengalami pertumbuhan tinggi pada tahun 2021 dan 2022, Sri Mulyani menyatakan bahwa tren penerimaan pajak pada Januari 2024 tetap positif, mencerminkan konsistensi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
APBN per Januari 2024 mencatatkan surplus Rp31,3 triliun atau 0,14 persen dari PDB, didukung oleh realisasi pendapatan negara yang melampaui belanja negara.
Pendapatan negara mencapai Rp215,5 triliun atau 7,7 persen dari APBN, sedangkan belanja negara sebesar Rp184,2 triliun atau 5,5 persen dari APBN. (mad/hdl)










