Jakarta (pilar.id) – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di angka 5,81 persen secara year on year (yoy) pada kuartal III-2022, dengan range di kisaran 5,77 persen hingga 5,85 persen yoy.
Ekonom LPEM UI Teuku Riefky, memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi nasional akan berada di angka 5,35 persen yoy pada akhir tahun 2022.
“Perekonomian Indonesia masih memiliki potensi untuk tumbuh di atas 5 persen yoy di sisa tahun 2022,” kata Riefky dalam keterangannya, Jumat (4/11/2022).
Adapun, proyeksi pertumbuhan ini didasarkan karena adanya permintaan domestik yang solid dan performa ekspor yang baik sepanjang kuartal III-2022, yang diproyeksi akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2022.
Selain itu, juga adanya low-base effect dari kuartal-III 2021 yang mencatatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) terendah selama pandemi covid-19, dengan berada di angka 3,51 persen yoy.
Meskipun demikian, dalam kesempatan ini, Riefky mengingatkan masih adanya berbagai tantangan ekonomi bagi Indonesia di sisa akhir tahun 2022.
Dia menjelaskan, masih berlanjutnya pengetatan suku bunga moneter oleh berbagai bank sentral di dunia, akan memicu arus modal keluar secara masif dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga akan menyebabkan depresiasi berbagai mata uang, termasuk Rupiah.
“Berlanjutnya kenaikan suku bunga oleh The Fed secara signifikan telah menyebabkan modal keluar dari pasar negara berkembang” kata Riefky.
Ditambah, kenaikan harga komoditas di tingkat global dan kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh pemerintah, depresiasi Rupiah dapat mendorong laju inflasi ke titik tertinggi. (her/din)






