Jakarta (pilar.id) – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan bahwa perubahan penafsiran terhadap jam kerja petugas Pemilu 2024 telah memberikan kontribusi positif dalam menurunkan angka kematian.
Pernyataan ini disampaikan usai kehadirannya dalam rapat evaluasi petugas pemilu di Gedung Kementerian Kesehatan Jakarta, pada hari Senin (19/2/2024).
Mendagri Tito Karnavian menjelaskan bahwa salah satu permasalahan pada Pemilu tahun 2019 adalah jam kerja yang sangat panjang, mencapai lebih dari 23 jam. Durasi tersebut melibatkan proses pencoblosan yang dimulai pukul 07.00 hingga 13.00 dan dilanjutkan dengan penghitungan suara rata-rata hingga pukul 00.00.
“Idealnya manusia bekerja 10 jam menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tetapi kemudian ada keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memperbolehkan penambahan 12 jam lagi, artinya sampai hari berikutnya,” kata Mendagri.
Namun, seringkali petugas Komisi Pemilihan Umum (KPU) di lapangan kurang memahami keputusan tersebut, menyebabkan perhitungan suara dilakukan tanpa jeda, yang pada akhirnya memicu kelelahan.
“Tanpa jeda ini banyak yang dimaknai nggak boleh meninggalkan tempat, terus menerus. Padahal, tidak berarti individu harus bekerja terus-menerus, melainkan proses pencoblosan hingga penghitungan suara yang harus tanpa jeda,” jelas Mendagri.
Dalam upaya mitigasi, Kementerian Dalam Negeri mengadakan pertemuan daring dengan petugas KPU, Bawaslu, dan kepala daerah menjelang pemungutan suara Pemilu pada 14 Februari 2024. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk memperbaiki penafsiran terhadap klausul bekerja tanpa jeda.
Mendagri menyatakan bahwa KPU berpendapat bahwa tanpa jeda diperlukan untuk menghindari potensi risiko dan gangguan dalam penghitungan suara. “Tetapi tidak berarti individu terus-menerus bekerja. Prosesnya tetap berjalan, ada penghitungan, dan jika ada yang butuh istirahat, ada yang bisa menggantikan,” tambahnya.
Berdasarkan praktik ini, Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa persentase petugas Pemilu yang meninggal pada periode 14-18 Februari 2024 berada dalam kisaran 16 persen, turun dari angka serupa pada 2019 yang mencapai 554 jiwa. (hdl)










