Jakarta (pilar.id) – Sebuah pertunjukan teater yang menghipnotis, Matahari Papua, menyulut semangat ratusan penonton termasuk eks Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada Jumat malam (7/6/2024).
Dengan naskah karya Norbertus Riantiarno, atau yang akrab disapa Nano Riantiarno, pada tahun 2014, pertunjukan ini disutradarai oleh putranya sendiri, Rangga Riantiarno. “Matahari Papua” tidak hanya menghadirkan pesan kemerdekaan yang universal maupun individual, tetapi juga diperkaya dengan humor, kostum unik, dan aksesoris menarik, memastikan keseruan bagi penonton. Sentuhan khas Teater Koma yang selalu mengangkat isu-isu sosial dan politik dalam bingkai hiburan yang segar.
“Saya sangat terkesan dengan karya ini. Ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga pembelajaran yang sarat akan makna, terutama tentang kemerdekaan, baik itu dalam konteks individu maupun universal. Dedikasi Nano Riantiarno terhadap seni pertunjukan, yang kini diteruskan oleh putranya, Rangga, patut diacungi jempol,” ujar Sudirman usai menyaksikan pertunjukan tersebut.
Dengan berdirinya sejak 1977, Teater Koma tetap menjadi kekuatan di dunia seni pertunjukan hingga saat ini. Ini, menurut Sudirman, merupakan bukti nyata akan eksistensi dan konsistensi dalam menginspirasi generasi mendatang untuk menghargai kekayaan seni dan budaya bangsa.
Sudirman turut mengucapkan selamat atas pagelaran Teater Koma yang sudah memasuki kali ke-500. Ini menjadi bukti keuletan Teater Koma dalam dunia kreatif, bahkan sebelum istilah industri kreatif menjadi populer seperti sekarang.
“Sebagai bangsa yang beragam, kita memiliki kekayaan seni dan budaya yang melimpah. Dengan fasilitas pertunjukan yang memadai seperti Graha Bhakti Budaya ini, cerita-cerita dan lakon-lakon seperti ‘Matahari Papua’ bisa dinikmati tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di seluruh penjuru Indonesia. Jakarta, sebagai pusat kegiatan budaya, memiliki potensi besar untuk membangun cerita dari berbagai daerah di Indonesia dan menghadirkannya dalam panggung global,” tutur Sudirman.
Dia menilai bahwa cerita-cerita yang diangkat oleh Teater Koma cerdas dan relevan dengan realitas sosial di Indonesia. Melalui pertunjukan seperti “Matahari Papua”, penonton tidak hanya dimanjakan dengan hiburan semata, tetapi juga diberikan pesan-pesan inspiratif yang bernas.
Sebagai salah satu penikmat seni, Sudirman berharap agar pemerintah terus memberikan dukungan kepada industri kreatif, sehingga seni dan budaya Indonesia dapat terus berkembang. Selain itu, ia juga berharap agar Jakarta dapat menjadi pusat nasional dan internasional bagi industri kreatif. “Ini bukanlah impian yang mustahil karena Indonesia memiliki kekayaan seni dan budaya yang bisa dihadirkan dalam pertunjukan-pertunjukan bertaraf dunia,” tambah Sudirman Said. (ret/hdl)




