Surabaya (pilar.id) – Kenaikan harga bahan pokok menjadi perhatian serius belakangan ini, terutama setelah berlangsungnya pesta pemilu. Fenomena ini menyulut kekhawatiran di kalangan masyarakat karena harga berbagai komoditas terus merangkak naik.
Dr. Gitadi Tegas Supramudyo M Si, seorang pakar Kebijakan Publik dari Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan pokok adalah hal yang sudah lazim terjadi sejak lama. Menurutnya, dari sudut pandang studi kebijakan, masalah ini muncul karena kurangnya konsistensi dalam menerapkan grand design kebijakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Ketidakpastian ini terjadi karena banyak faktor, mulai dari kebijakan yang tidak cukup baik, tidak konsisten, hingga intervensi negara yang tidak tepat sehingga kepentingan masyarakat menjadi terpinggirkan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pola kenaikan harga pada waktu-waktu tertentu seperti hari libur, hari raya, atau masa panen sudah menjadi pola yang umum terjadi. Hal ini disebabkan oleh tidak optimalnya grand design kebijakan yang diterapkan, terutama terkait dengan swasembada pangan.
Indonesia, sebagai negara agraris, seharusnya memiliki semangat untuk mencapai swasembada pangan. Namun, hal ini terganggu dengan meningkatnya impor pangan. Padahal, cadangan sembilan bahan pokok dapat menjadi alternatif untuk mengatasi fluktuasi harga di pasar.
Dalam penanganan kenaikan harga bahan pokok, Dr. Gitadi menekankan pentingnya grand design kebijakan yang unggul, cerdas, dan handal. Selain itu, dibutuhkan kemauan politik yang kuat untuk memperkuat posisi negara dan menolak intervensi yang tidak tepat.
“Grand design yang dibuat harus komprehensif dan dikelola oleh kementerian yang berada di bawah komando presiden. Hal ini juga harus terintegrasi dengan Nawacita dalam kebijakan sektoral hingga ke lapangan,” tambahnya.
Meskipun masyarakat kini memiliki akses mudah terhadap informasi, terutama terkait kebijakan publik, pemerintah terkadang masih kurang responsif. Hal ini disebabkan oleh intervensi kekuatan finansial yang kuat, sehingga para pengambil kebijakan sulit untuk menentangnya.
“Negara seharusnya memiliki peran yang lebih aktif dalam menjaga kepentingan publik, bukan malah terlibat dalam konspirasi yang merugikan masyarakat,” tegasnya.
Dr. Gitadi juga menekankan pentingnya pendidikan kepada masyarakat terkait masalah kenaikan harga bahan pokok. Menurutnya, publik perlu dididik untuk mengakses informasi yang akurat dari sumber yang kredibel, guna menghindari penyebaran berita yang tidak benar. (hdl)










