Sidoarjo (pilar.id) – Seniman sekaligus akademisi dari Universitas Negeri Surabaya, Indah Chrysanti Angge, menggelar pameran tunggal seni kriya logam bertajuk “Suwidak Jaran” di Rumah Budaya Malik Ibrahim. Pameran ini menjadi penanda penting perjalanan kreatifnya yang kini memasuki usia 60 tahun.
Tema “Suwidak Jaran” diangkat dari bahasa Jawa, di mana “swidak” berarti enam puluh, dipadukan dengan simbol kuda api yang merepresentasikan kekuatan, semangat, dan daya hidup. Melalui konsep tersebut, Indah Chrysanti menegaskan komitmennya untuk terus berkarya secara produktif di usia yang matang.
Pameran ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang apresiasi karya, tetapi juga sarana edukasi publik mengenai seni kriya logam sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Indah Chrysanti menilai bahwa seni rupa nasional memiliki spektrum luas yang tidak terbatas pada seni lukis, melainkan juga mencakup kriya logam dengan nilai artistik dan fungsional yang tinggi.
Karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil eksplorasi teknik kriya logam tradisional yang telah ia tekuni sejak menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Proses kreatif tersebut dituangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari karya seni murni hingga karya fungsional yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Persiapan pameran berlangsung hampir satu tahun, mencakup proses penciptaan karya hingga penentuan konsep ruang. Pemilihan rumah sebagai lokasi pameran menjadi pendekatan yang sengaja diambil untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung, sekaligus menunjukkan bagaimana kriya logam dapat hadir dalam ruang domestik sebagai elemen estetika maupun utilitas.
Pembukaan pameran berlangsung dengan nuansa budaya lokal yang kental. Beragam pertunjukan seperti musik patrol, peragaan busana bertema Toraja, serta sajian kuliner tradisional turut meramaikan suasana. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan tradisi kepada masyarakat luas.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk akademisi, dosen, serta komunitas seni dari sejumlah kota seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Surabaya. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian seni kriya logam sebagai bagian dari identitas budaya nasional.
Melalui pameran “Suwidak Jaran”, Indah Chrysanti berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga dan mengembangkan teknik kriya tradisional semakin meningkat. Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak hanya mengenal, tetapi turut melestarikan praktik seni berbasis budaya agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman. (usm/hdl)










