Jakarta (pilar.id) – Indonesia merupakan negara yang terbentuk dari ratusan bahkan ribuan kepulauan. Di satu sisi, kondisi ini membuat Indonesia menjadi sebuah negara yang unik dan kaya.
Di lain sisi, kondisi geografis tersebut juga memberikan dampak negatif. Salah satunya adalah keterbatasan akses. Mulai dari akses pemerataan ekonomi, kebutuhan pokok sampai pendidikan.
Sulitnya akses pendidikan menjadi salah satu persoalan yang selama ini dihadapi oleh para pelajar di Provinsi Kepulauan Riau. Terutama, para lulusan SMA/SMK sederajat di daerah pesisir yang tak bisa mengakses pendidikan di perguruan tinggi.
Bahkan, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Sirajuddin Nur menyebut 80 persen lulusan SMA/SMK hinterland atau kawasan pesisir di daerah itu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena berbagai faktor.
“Dari hasil pantauan di lapangan, anak-anak pesisir masih kesulitan mengakses bangku kuliah,” kata Sirajuddin saat rapat kerja bersama Dinas Pendidikan Pemprov Kepri di Batam, Selasa (12/7/2022).
Menurutnya letak geografis Provinsi Kepri yang didominasi 96 persen lautan, membuat anak-anak yang tinggal di daerah pesisir terutama di pulau terluar, terdepan, dan tertinggal (3T), cukup sulit mengakses dunia pendidikan dipicu masalah utama ekonomi, kemudian jarak dengan kawasan perkotaan, hingga minimnya akses informasi.
Dikatakan, rendahnya akses pendidikan bagi putra-putri tempatan di hinterland, akhirnya memicu tingginya tingkat kemiskinan masyarakat pesisir.
“Tak ada kabar yang menggembirakan bagi warga pesisir. Selain masalah kemiskinan, salah satunya ditenggarai rendahnya tingkat pendidikan,” ujar Sirajuddin.
Oleh karenanya, ia mengajak Pemprov Kepri bersama-sama ambil berat terhadap masalah aksesibilitas pendidikan anak-anak pesisir, melalui program pemberian beasiswa kuliah bagi warga kurang mampu pada tahun-tahun mendatang.
Ia pun menyesalkan Pemprov Kepri pada tahun ini hanya menganggarkan dana beasiswa untuk anak-anak berprestasi, namun tidak dibarengi dengan beasiswa untuk anak-anak kurang mampu.
“Klusternya harus dipisahkan. Bagaimana anak-anak pesisir yang tak mampu bisa melanjutkan kuliah, kalau pemprov hanya menganggarkan beasiswa bagi yang berprestasi,” katanya menegaskan.
Sementara, Kepala Biro Kesra Pemprov Kepri Aiyub menyampaikan lewat APBD 2022 telah dialokasikan anggaran beasiswa sebesar Rp4,5 miliar bagi 850 mahasiswa asal daerah setempat yang dinilai berprestasi.
“Program beasiswa itu akan diluncurkan pada bulan ini oleh Gubernur Provinsi Kepri Ansar Ahmad,” katanya.
Aiyub menjelaskan sasaran penerima beasiswa itu adalah mahasiswa berprestasi, baik itu untuk Diplomasi 3 (D3), Diploma 4 (D4), Strata 1 (S1), Strata 2 (S2), dan mahasiswa di luar negeri. (fat)










