Makassar (pilar.id) – Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), bersama dengan The United Nations Office for Project Services (UNOPS), kembali mengadakan pertemuan Wind Power Technical Working Group (TWG). Kegiatan ini merupakan langkah bersama untuk mendorong pemanfaatan energi angin di Indonesia.
Praptono Adi, Koordinator Kerja Sama dan Investasi Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Direktorat Jenderal EBTKE, mengungkapkan bahwa Indonesia perlu memaksimalkan potensi energi anginnya guna mencapai target kapasitas terpasang sebesar 94 GW pada tahun 2060. Target ini merupakan bagian dari strategi nasional dalam upaya mencapai nol emisi karbon.
“Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan masukan untuk rancangan peta jalan angin darat yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan sektor energi angin yang terus berkembang,” ujarnya ketika membuka TWG II beberapa waktu lalu.
Adi menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai kesempatan untuk berbagi pengetahuan secara kolaboratif dan mencari solusi bersama terhadap tantangan pengembangan energi angin di Indonesia.
Dalam diskusi mengenai Progress Peta Jalan Energi Angin Darat 2023-2030, studi dari Indonesian Institute for Energy Economics (IIEE) dan Pondera menyebutkan bahwa tantangan utama pengembangan energi angin Indonesia terkait dengan data sumber daya angin, kapasitas industri, dan infrastruktur pendukung.
Salah satu solusi yang dibahas adalah melakukan pra-pembiayaan pengukuran angin oleh Pemerintah, dengan membebankan biaya pengukuran kepada pemenang tender proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).
Muhammad Fathahillah, Country Coordinator Southeast Asia Energy Transition Partnership (ETP), menyoroti pentingnya penambahan kuota energi angin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode 2027-2030. Dalam RUPTL, alokasi energi angin hingga 2026 hanya sebesar 597 MW. Penambahan kuota ini diharapkan merangsang investasi dan penelitian di sektor energi angin.
Fathahillah juga menekankan pentingnya peningkatan infrastruktur pendukung untuk energi angin, khususnya dalam menghadapi transisi energi berkelanjutan. Kemitraan antara ETP dan PLN dalam mendirikan Pusat Kontrol SCADA / EMS Utama dan Pusat Kontrol Pemulihan Bencana diantisipasi dapat meningkatkan integrasi sumber energi terbarukan, seperti angin, di seluruh Indonesia.
Sebagai bagian dari kegiatan TWG 2, dilakukan kunjungan lapangan ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sidrap. Kunjungan ini diharapkan dapat menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman UPC Renewables Indonesia dalam pengembangan PLTB Sidrap. (ret/hdl)










