Jakarta (pilar.id) – Isu mengenai masalah moral politik dan krisis konstitusi menjadi sorotan dalam sebuah diskusi berjudul “Masalah Moral Politik dan Krisis Konstitusi: Suara dari Kampus” yang diselenggarakan melalui platform X Spaces (Twitter) pada Minggu (11/2/2024).
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menyoroti peran elit dalam merusak demokrasi. Menurutnya, figur yang terlibat dalam politik cenderung dipengaruhi oleh kekuasaan, dekat dengan tindakan banditisme, penyimpangan, dan penyelewengan. Oleh karena itu, perlunya adanya mekanisme check and balances.
Diskusi ini mencerminkan suara kampus sebagai lembaga yang netral dan mayoritas memiliki moralitas elite. Sejumlah kampus, seperti UGM yang bersuara pada Januari lalu, telah menunjukkan keberaniannya untuk bersuara. Universitas Paramadina, misalnya, telah mengambil inisiatif sejak 20 Desember 2023.
Herlambang P. Wiratraman, dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, mengamati bahwa etika bernegara semakin tergerus. Ia mencatat skandal ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman yang terlibat dalam putusan MK dengan pelanggaran berat. Ini menjadi tanda bahwa proses politik terkesan dibiarkan tanpa pijakan etika yang kuat.
Putusan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) terkait kesalahan ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga mendapat kritik keras dari kalangan kampus. Herlambang menilai bahwa terjadi serangan balik terhadap ekspresi kritis, dengan melibatkan kepolisian dan memperlakukan kampus sebagai alat untuk kepentingan kekuasaan.
Wijayanto, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, melihat adanya praktik manipulasi demokrasi dengan menggunakan cybertroops dan buzzer. Manipulasi tersebut semakin terbongkar, dan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah semakin terdengar.
Fachry Ali menilai bahwa moral politik Indonesia mengalami perubahan dengan munculnya suara kritis dari berbagai kampus. Universitas Paramadina dan UGM telah bersuara terhadap intimidasi terhadap suara-suara kritis. Suara kritis dari berbagai kampus, seperti UII dan UI, juga mulai muncul, mengambil alih peran kritik yang sebelumnya disampaikan secara individu.











