Surabaya (pilar.id) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan (Dinkes Jatim) menggelar Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) Polio secara serentak di seluruh wilayah Jawa Timur.
Kegiatan ini merupakan respons terhadap temuan kasus lumpuh layu akut (Acute Flaccid Paralysis) di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang disebabkan oleh Virus Polio Tipe Dua.
Dalam surat Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: IM.02.03/Menkes/1051/2023 tanggal 29 Desember 2023, Dinkes Jatim mendapat instruksi untuk melaksanakan Sub PIN serentak mulai 15 Januari 2024.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan ajakan kepada orang tua untuk membawa anak-anak usia 0-7 tahun ke Pos Imunisasi terdekat, seperti Posyandu, Puskesmas, PAUD, TK, SD, MI, dan sarana layanan kesehatan lainnya.
“Sub PIN Polio dilakukan melalui pemberian imunisasi berupa novel Oral Polio Vaccine type 2 (nOPV2) kepada seluruh anak di Jawa Timur usia 0-7 tahun, tanpa memandang status imunisasi sebelumnya,” ujar Gubernur Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Selasa (16/1/2024).
Berdasarkan data dari Dinkes Jatim, pada hari pertama Sub PIN Polio putaran pertama, yang dilaksanakan serentak di 38 kabupaten/kota, telah mencapai angka 1.168.443 anak yang telah diimunisasi. Jumlah ini mencakup 26,3% dari total sasaran anak usia 0-7 tahun sebanyak 4.437.679 anak.
Khofifah menegaskan bahwa pemberian imunisasi Polio sangat penting karena dapat mencegah penyakit ini yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak-anak. Ia mengajak masyarakat untuk membawa anak-anak ke fasilitas imunisasi terdekat, karena virus Polio dapat dengan mudah berkembang biak di dalam saluran pencernaan dan menyerang sistem saraf anak.
“Masyarakat harus memahami bahwa masa inkubasi virus polio sekitar 3-6 hari, dan kelumpuhan terjadi dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Gejala awal melibatkan demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher, dan nyeri di tungkai,” tambahnya.
Selain imunisasi, Gubernur Khofifah juga menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam mencegah penularan virus Polio, yang biasanya terjadi melalui kontak fecal-oral.
Menerapkan kebiasaan buang air besar di jamban dengan septic tank, membuang sampah popok bayi dengan benar, dan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air merupakan langkah krusial dalam pencegahan.
Untuk meningkatkan efektivitas pencegahan dan penanggulangan Polio, Gubernur Khofifah meminta Dinkes Jatim berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur.
Ini termasuk kegiatan Hospital Record Review di seluruh Rumah Sakit di 38 kabupaten/kota serta respon cepat surveilans penyakit Polio, termasuk survei di 200 rumah dan pengambilan spesimen anak sehat di wilayah terdampak.
Hasil survei menunjukkan bahwa terdapat 9 anak yang positif Virus Dalam Vaksin Polio Type 2 (VDVP2), namun kondisi mereka sehat. Mereka akan mendapatkan imunisasi Polio pada waktu Sub PIN dan dipantau kesehatannya selama 3 bulan oleh tenaga Puskesmas.
Khofifah juga mendesak Dinkes Jatim untuk mengeluarkan Surat Edaran kepada 38 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Timur terkait pelaksanaan Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) dalam rangka penanggulangan KLB Polio cVDPV2.
Selain itu, ia mengajukan Rakor dan Sosialisasi Pelaksanaan Sub PIN dengan seluruh jajaran Dinkes kabupaten/kota se-Jawa Timur bersama mitra kesehatan, seperti TP.PKK, Mulimat Nu, Fatayat NU, Aisiyah, Nasiyatul Aisiyah, dan KOMDA KIPI 38 Kabupaten/Kota. (riq/ted)






