Jakarta (pilar.id) – Sebanyak 70 perguruan tinggi menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan Summer School dengan tema Being Muslim in America.
Acara Summer School ini akan berlangsung selama bulan Agustus 2023 dengan metode pelaksanaan daring.
Kegiatan ini akan mencakup 14 kali pertemuan dan 2 seminar, dengan total 16 aktivitas yang akan dihitung sebagai 2 SKS. Untuk dokumentasi materi dan kegiatan, digunakan LMS dengan Google Classroom.
Permintaan resmi untuk menggunakan platform ini akan diajukan kepada Google Indonesia, termasuk dukungan dari SPIDI (Sekolah Putri Darul Istiqamah – sekolah dengan status Google School Reference).
Kegiatan Summer School ini diselenggarakan bersama 70 perguruan tinggi, IUCSRS (Indonesian Universities Consortium on Social Religious Studies), Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, STIA Abdul Haris, Majalah Istiqlal, dan Penerbit Pro de Leader. Kegiatan ini akan difasilitasi oleh Muh Saleh Mude, seorang kandidat doktor dari Hartford International University, USA.
Komite Saintifik, Ismail Suardi Wekke, yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Abdul Haris, Makassar, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan prakarsa antara dua semester. “Dengan liburan di negara empat musim, yang disebut dengan musim panas, maka ini kesempatan untuk belajar bersama,” kata Ismail.
Summer School ini menawarkan kesempatan bagi peserta untuk belajar dari para ahli di bidangnya, berinteraksi dengan teman sejawat dari berbagai negara, dan mengembangkan keterampilan dan kompetensi yang relevan di era digital.
Program Summer School ini dapat diakui sebagai perkuliahan diluar perguruan tinggi dengan nilai 2 SKS bagi mahasiswa, serta sebagai rekognisi aktivitas dosen di luar perguruan tinggi. Muh Saleh Mude berharap kegiatan ini dapat membantu menguatkan program belajar bersama yang serius, dengan keseriusan dari seluruh peserta dalam belajar bersama.
Acara Summer School ini akan dimulai pada awal Agustus mendatang. Diharapkan, program ini dapat dibuka oleh salah satu tokoh nasional, seperti Pak Jusuf Kalla atau Prof Alwi Shihab.
Program ini mendapat dukungan dari puluhan universitas dan sekolah tinggi, termasuk Staf Ahli Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Peserta yang sudah bergabung diharapkan dapat aktif mengikuti program ini secara gratis dan jika dinilai berhasil dengan dukungan penuh dari para peserta, diharapkan program serupa bisa dilanjutkan pada kesempatan berikutnya. (usm/hdl)










