Jayapura (pilar.id) – Gempa bumi dengan magnitudo M4,8 mengguncang wilayah barat laut Kabupaten Jayapura, Papua, pada 29 Mei 2025 pukul 06:36:30 WIB.
Informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa pusat gempa berada di laut, sekitar 83 kilometer barat laut Jayapura, dengan kedalaman 14 kilometer di koordinat 1.97°LS dan 139.96°BT.
Data seismologis dari lembaga internasional turut memberikan catatan serupa dengan variasi kecil. The United States Geological Survey (USGS) melaporkan gempa berkekuatan M4,9 di kedalaman 11,9 km, sementara GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman mencatat magnitudo M5,0 pada kedalaman 10 km.
Analisis Geologi dan Penyebab Gempa
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan bahwa meskipun pusat gempa berdekatan dengan laut, titik gempa sebenarnya berada di darat dan paling dekat dengan Jayapura.
Wilayah ini memiliki morfologi perbukitan bergelombang dan tersusun dari batuan kuarter, dominan berupa batuan sedimen. Komposisi tanah di lokasi kejadian terdiri dari tanah lunak (kelas E), tanah sedang (kelas D), dan tanah sangat padat hingga batuan lunak (kelas C).
Berdasarkan mekanisme fokal, gempa ini memiliki karakter patahan oblique mengiri dengan komponen naik, berorientasi barat daya-timur laut.
Mekanisme ini merupakan bagian dari sistem sesar mendatar akibat interaksi antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Australia yang menimbulkan tekanan dari arah utara ke selatan.
Dampak Gempa: Tidak Ada Korban, Tidak Picu Tsunami
Hingga berita ini disusun, belum ada laporan mengenai dampak gempa berupa kerusakan bangunan maupun korban jiwa. Gempa ini juga dipastikan tidak menimbulkan tsunami, karena energi yang dihasilkan tidak cukup untuk memicu deformasi dasar laut yang signifikan.
Permukiman warga yang berada dalam kawasan terdampak berada di area dengan tingkat Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi menengah hingga tinggi, sehingga tetap perlu diwaspadai kemungkinan dampak gempa susulan.
Rekomendasi Resmi dari PVMBG
Pihak PVMBG memberikan beberapa rekomendasi penting untuk masyarakat:
- Tetap tenang dan tidak terpancing isu hoaks terkait gempa bumi maupun tsunami.
- Waspada terhadap potensi gempa susulan, meski hingga saat ini belum ada kejadian lanjutan yang signifikan.
Bangunan di wilayah dengan risiko gempa tinggi perlu mengikuti kaidah konstruksi tahan gempa dan dilengkapi jalur evakuasi.
Pentingnya upaya mitigasi risiko bencana baik secara struktural (perbaikan infrastruktur) maupun non-struktural (edukasi, simulasi bencana).
Meskipun tidak menimbulkan kerusakan besar atau tsunami, gempa bumi yang terjadi di sekitar Jayapura ini menjadi pengingat penting akan potensi bencana geologi di wilayah timur Indonesia. Masyarakat diimbau terus mengikuti informasi dari BMKG dan BPBD serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. (hdl)









