Khartoum (pilar.id) – Wabah kolera di Sudan kian mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan Sudan mengumumkan bahwa sejak awal Juli 2024 hingga kini, telah tercatat 91.034 kasus kolera, termasuk 2.302 kematian, yang tersebar di 116 wilayah di 17 negara bagian.
Dalam laporan yang dirilis pada Selasa (22/7), pemerintah Sudan melaporkan tambahan 1.307 kasus baru dan 18 kematian hanya dalam kurun waktu 12–18 Juli di 35 wilayah lokal.
Dua wilayah di Darfur mencatat angka tertinggi pekan ini. Tawila, Darfur Utara, melaporkan 519 kasus infeksi, menjadikannya wilayah dengan jumlah kasus terbanyak. Sementara itu, Bileil, Darfur Selatan, mencatat jumlah kematian tertinggi.
Kondisi ini menambah beban berat bagi sistem kesehatan yang sudah rapuh akibat konflik bersenjata dan bencana alam.
PBB: Krisis Kemanusiaan Semakin Parah!
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) mengeluarkan peringatan bahwa krisis kemanusiaan di Sudan memburuk, seiring merebaknya kolera, banjir musiman, dan arus pengungsi yang kembali ke wilayah dengan layanan terbatas.
“Wabah penyakit seperti kolera, malaria, dan demam berdarah menjadi ancaman nyata di musim hujan ini,” ungkap OCHA dalam laporannya.
Konflik berkepanjangan antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang pecah sejak April 2023 telah melumpuhkan infrastruktur kesehatan secara masif.
Menurut laporan resmi, lebih dari 250 rumah sakit telah tutup, dan 70–80 persen fasilitas medis di zona konflik tidak beroperasi secara normal. Dampaknya, ribuan pasien terpaksa tidak mendapatkan penanganan yang layak, termasuk penderita kolera yang sangat bergantung pada penanganan cepat.
Konflik Memperburuk Penanganan Wabah
Konflik yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa jutaan warga mengungsi—baik di dalam negeri maupun lintas negara—memperparah respons terhadap wabah penyakit menular seperti kolera.
Tanpa akses air bersih, sanitasi layak, dan pengawasan medis yang konsisten, wabah ini berpotensi semakin meluas.
Sudan saat ini menghadapi krisis multidimensi: konflik bersenjata, runtuhnya sistem kesehatan, dan wabah penyakit yang terus meluas. Kolera bukan hanya menjadi ancaman kesehatan masyarakat, tetapi juga mencerminkan betapa gentingnya situasi kemanusiaan yang tengah berlangsung di negara tersebut. (mad/hdl)








