Jakarta (pilar.id) – Penurunan jumlah mahasiswa baru yang dialami banyak perguruan tinggi swasta (PTS) dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius berbagai pemangku kepentingan pendidikan tinggi. Di tengah kondisi tersebut, Universitas Paramadina menyampaikan apresiasi terhadap langkah dan perhatian Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III yang dinilai aktif memperjuangkan keberlangsungan institusi pendidikan swasta di Indonesia.
Apresiasi tersebut disampaikan Wakil Rektor Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza, menanggapi pemaparan Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr. Henri Tambunan, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Komisi X DPR RI yang berlangsung di Jakarta, Kamis (4/6).
Dalam forum tersebut, Henri Tambunan mengungkapkan bahwa tren penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi swasta wilayah Jakarta menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Salah satu faktor yang dinilai berkontribusi adalah panjangnya periode penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN), terutama melalui jalur mandiri yang berlangsung hingga mendekati awal tahun akademik.
Menurut Henri, kondisi tersebut membuat banyak calon mahasiswa yang sebelumnya telah mendaftar atau bahkan diterima di PTS tetap mencoba berbagai jalur seleksi PTN. Akibatnya, tidak sedikit calon mahasiswa yang akhirnya membatalkan pilihan di kampus swasta setelah dinyatakan lolos di perguruan tinggi negeri.
Penurunan Mahasiswa Baru Tekan Kondisi Keuangan PTS
Menanggapi kondisi tersebut, Handi Risza menilai pernyataan Kepala LLDIKTI Wilayah III menunjukkan kepedulian terhadap tantangan nyata yang sedang dihadapi perguruan tinggi swasta. Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar PTS saat ini mengalami penurunan jumlah mahasiswa baru berkisar antara 20 hingga 30 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Bahkan, menurutnya, terdapat sejumlah perguruan tinggi swasta yang mengalami kesulitan lebih serius karena tidak lagi memperoleh mahasiswa baru dalam jumlah yang memadai untuk mendukung operasional kampus.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap keberlangsungan institusi pendidikan tinggi swasta. Handi menjelaskan bahwa mayoritas PTS masih sangat bergantung pada pendapatan dari biaya pendidikan mahasiswa. Dengan komposisi pendapatan yang sebagian besar berasal dari uang kuliah, penurunan jumlah mahasiswa baru otomatis memengaruhi kemampuan kampus dalam menjalankan operasional, meningkatkan kualitas layanan akademik, hingga melakukan pengembangan institusi.
Karena itu, ia menilai diperlukan kebijakan yang mampu menciptakan keseimbangan dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah pengaturan jadwal dan mekanisme penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri agar tidak menimbulkan dampak yang terlalu besar terhadap keberlangsungan perguruan tinggi swasta.
PTS Dinilai Memiliki Peran Strategis dalam Pendidikan Tinggi Nasional
Handi juga menegaskan bahwa pemerintah perlu melihat keberadaan perguruan tinggi swasta sebagai bagian integral dari sistem pendidikan tinggi nasional. Menurutnya, peran PTS selama ini sangat besar dalam memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi, sehingga tidak tepat jika hanya diposisikan sebagai pelengkap bagi perguruan tinggi negeri.
Ia menilai dikotomi antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta sudah tidak lagi relevan dalam konteks pendidikan modern. Berdasarkan data pendidikan tinggi nasional, lebih dari separuh mahasiswa Indonesia saat ini menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kontribusi PTS terhadap pembangunan sumber daya manusia nasional sangat signifikan.
Atas dasar itu, Handi berharap perhatian pemerintah terhadap sektor pendidikan tinggi dapat diberikan secara lebih proporsional dan berkeadilan, termasuk dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru maupun pengembangan kualitas pendidikan tinggi secara keseluruhan.
Dorong Kolaborasi untuk Pendidikan Tinggi yang Inklusif
Universitas Paramadina juga berharap LLDIKTI Wilayah III terus memainkan peran strategis sebagai fasilitator peningkatan mutu pendidikan tinggi, khususnya di wilayah Jakarta. Menurut Handi, penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor penting untuk menciptakan pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Dukungan terhadap keberlangsungan perguruan tinggi swasta dinilai tidak hanya penting bagi institusi pendidikan itu sendiri, tetapi juga bagi upaya memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang berkualitas. Dengan kolaborasi yang lebih kuat dan kebijakan yang seimbang, PTS diharapkan dapat terus berkontribusi dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang dibutuhkan Indonesia di masa depan.
Universitas Paramadina menilai langkah LLDIKTI Wilayah III dalam menyuarakan tantangan yang dihadapi PTS menjadi sinyal positif bagi terciptanya ekosistem pendidikan tinggi yang lebih sehat, kompetitif, dan berkelanjutan. (usm)










