Palembang (pilar.id) – Ketua TP PKK Jawa Tengah, Siti Atikoh, mengungkapkan pentingnya mempererat hubungan antara orangtua dan anak melalui tradisi makan bersama di meja makan.
Hal ini disampaikannya dalam acara Gerakan Kembali ke Meja Makan Melalui Sarapan Pagi Bergizi yang diadakan dalam rangka peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-30. Acara tersebut berlangsung di Main Dining Hall, Stadion Jakabaring, Palembang.
Kegiatan dimulai dengan sesi senam pagi yang diikuti oleh Siti Atikoh, Ketua TP PKK Sumatera Selatan, Febrita Lustia, yang juga merupakan istri Gubernur Herman Deru, serta istri Kepala BKKBN RI, Dwikisworo Setyowireni.
Siti Atikoh terlihat bersemangat dan lincah mengikuti setiap gerakan dalam senam pagi tersebut. Ia dikenal sebagai penggiat olahraga di Jawa Tengah.
Setelah senam pagi, acara dilanjutkan dengan kegiatan “Kembali ke Meja Makan”. Dalam momen ini, BKKBN RI mengundang sejumlah keluarga untuk ikut serta meramaikan acara. Salah satu aturan yang diberlakukan adalah meletakkan gawai atau gadget di tengah meja.
“Aturan ini memiliki filosofi yang luar biasa karena melalui meja makan ini, ikatan antara orangtua dan anak dapat diperkuat,” ujar Siti Atikoh setelah kegiatan tersebut.
Menurutnya, saat makan bersama, komunikasi antara orangtua dan anak dapat terjalin dengan baik. Orangtua dapat dengan proaktif menanyakan kondisi anak mereka.
“Di sinilah kita dapat mengidentifikasi apakah anak kita mengalami masalah di sekolah, dan komunikasi dengan anak juga dapat terbentuk di sini,” tambahnya.
Siti Atikoh, yang merupakan cucu dari kiai Hisyam Kalijaran, menekankan bahwa melalui makan bersama, orangtua dapat mengidentifikasi apakah anak sedang menghadapi masalah, seperti kasus bullying atau hal-hal yang terkait dengan pendidikan anak.
“Dengan tradisi ini, masalah dapat teridentifikasi sejak dini, sehingga orangtua dapat memberikan perlakuan yang tepat,” tegasnya.
Siti Atikoh menyampaikan bahwa kegiatan makan bersama sebaiknya dilakukan setidaknya satu kali dalam sehari. Namun, ia juga memahami bahwa ini bisa menjadi tantangan bagi keluarga yang memiliki orangtua yang bekerja. Dalam keluarganya sendiri, mereka berusaha untuk makan bersama setidaknya pada malam hari, mengingat aktivitas masing-masing anggota keluarga.
Tradisi makan bersama ini tetap berlanjut meskipun anak mereka, Alam, sedang menempuh studi di Yogyakarta. Setidaknya, setiap akhir pekan, ketiganya tetap meluangkan waktu untuk makan bersama.
“Melalui makan di meja makan, kita dapat mengetahui bagaimana sosialisasi anak di sekolah, lingkungan sekitarnya, dan juga mengamati perkembangan karakter anak kita. Jadi, makan di meja makan tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi, tetapi juga pembentukan karakter,” pungkasnya. (ret/hdl)










