Jakarta (pilar.id) – Membangun momentum. Itulah yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Setidaknya, menurut penilaian dari Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah.
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa Anies mulai menemukan momentum untuk membangun citra diri. Terutama berkat beberapa kebijakan populer yang ia keluarkan beberapa waktu ke belakang.
Momentum untuk membangun citra diri dan meniakkan popularitas itu, menirit Dedi mulai dibangun ketika Anies sukses menggelar Jakarta E-Prix, penutupan Holywings, sampai pada munculnya kelompok remaja SCBD dan fenomena Citayam Fashion Week.
“Saya kira Anies sedang mendapatkan momentum, salah satunya berkaitan dengan penutupan Holywing,” kata Dedi kepada Pilar.id, di Jakarta, Kamis (14/7/2022).
Menurut Dedi, momentum-momentum tersebut menjadi langkah awal Anies untuk dipromosikan sebagai calon presiden (capres). Anies, kata Dedi, merupakan kandidat terkuat dari elit non partai politik (parpol). “Dan itu saya kira cukup menarik,” katanya.
Paling tidak, Anies memiliki dua modal utama untuk menjadi capres. Pertama, ia pernah dan saat ini juga masih menjadi seorang birokrat. Modal kedua, Anies dinilai dekat dengan kalangan elit parpol.
“Jadi saya kira Anies bisa saja menjadi satu-satunya tokoh di luar partai politik yang mungkin punya peluang keterusungan terbesar,” kata Dedi.
Apalagi, lanjut Dedi, janji-janji politik Anies juga sudah banyak yang tercapai. Namun, dengan sisa waktu yang tersedia sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies perlu melakukan maintenance tata kelola di Ibu Kota.
“Anies juga tetap harus menjaga diri, supaya dia tidak tergelincir dalam promosi-promosi politik praktis,” kata Dede.
Sebelum masa jabatan Gubernur berakhir, Anies perlu menghindari pengerahan massa atau membentuk relawan pemenangan pemilihan presiden (pilpres). Sebab, kalau Anies terjebak dalam politik praktis saat ini, justru akan merusak reputasinya.
“Kalau tidak dihindari, besar kemungkinan reputasi Anies bisa saja turun,” kata dia.
Untuk menjaga elektabilitas dan popularitas, Anies juga perlu segera melakukan konsolidasi di tingkat daerah. Namun, konsolidasi tersebut dapat dilakukan setelah masa transisi pemerintahan DKI Jakarta.
“Jadi mulai membentuk poros partai politik itu penting dalam tahun-tahun ke depan, meskipun tidak sebagai kader parpol,” kata Dede. (ach/fat)









