Padang (pilar.id) – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat nilai ekspor provinsi itu mencapai Rp3,06 miliar Dollar AS sepanjang 2021. Angka ini naik signifikan dibandingkan 2020 yang mencapai Rp1,63 miliar Dollar AS atau naik 87,89 persen.
“Ekspor Sumbar paling dominan pada 2021 adalah komoditas lemak dan minyak hewan/nabati dengan nilai 2,44 miliar Dollar AS,” kata Kepala BPS Sumbar Herum Fajarwati di Padang, Minggu (6/2/2022).
Dijelaskan pula, karet dan barang dari karet jadi komoditas paling banyak diekspor dengan nilai 188,10 juta Dollar AS serta bahan nabati 64,33 juta Dollar AS.
Sepanjang 2021 negara tujuan ekspor paling besar adalah Pakistan dengan total nilai ekspor 864,65 juta Dollar AS, India 463,88 juta Dollar AS, Amerika Serikat 216,65 juta Dollar AS, Bangladesh 297,31 juta Dollar AS.
Ia menyampaikan pada 2021 ekspor ke Pakistan memiliki peran sebesar 28,519 persen dan India 16,93 persen. Sementara itu ekspor industri pengolahan Sumbar pada 2021 mencapai 2,9 miliar Dollar AS dan pertanian 139,25 juta Dollar AS.
Sebaliknya sepanjang 2021 nilai impor Sumbar mencapai 410,12 juta Dollar AS atau mengalami kenaikan 118,38 persen dibandingkan 2020 yang mencapai 187,80 juta Dollar AS.
Komoditas yang paling banyak diimpor pada 2021 adalah bahan bakar mineral senilai 305,17 juta Dollar AS, mesin-mesin 10,68 juta Dollar AS dan kertas 3,76 juta Dollar AS.
Negara asal impor terbesar pada 2021 yaitu Singapura dengan nilai 218,18 juta Dollar AS, China 7,62juta Dollar AS, dan Swedia 2,46 juta Dollar AS.
Sebelumnya Gubernur Sumbar Mahyeldi memaparkan di tengah pandemi ekspor komoditas pertanian Sumbar terus mengalami peningkatan. “Ini bukti bahwa sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang tetap bisa bertahan dan mendukung perekonomian daerah di tengah pandemi,” kata dia.
Produk pertanian yang diekspor diantaranya kayu manis, sawit, karet, pinang, pala, gambir, biji kopi, petai cina, kecombrang, jengkol dan beberapa produk lain yang memiliki pasar cukup luas di beberapa negara.
Ia menyampaikan potensi ekspor tersebut terus ditingkatkan salah satunya dengan memperkuat hilirisasi produk pertanian di daerah sehingga yang diekspor bukan lagi komoditas mentah.
“Kayu manis misalnya, kebutuhan di negara tujuan itu adalah yang sudah diolah menjadi bubuk. Demikian juga dengan karet. Kalau kita bisa membawa investor untuk membangun pabrik di Sumbar, nilai produknya tentu akan lebih tinggi,” katanya.
Ke depan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait akan ditugaskan untuk mulai mempersiapkan program untuk hilirisasi produk pertanian seiring dengan visi misi yang dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2021-2026 yang juga fokus pada sektor pertanian.
Mahyeldi mengatakan sejalan dengan upaya meningkatkan volume ekspor, harus didukung dengan ketersediaan pelabuhan laut yang memadai. Pelabuhan Teluk Bayur cocok dengan deskripsi itu tetapi saat ini masih ada kendala yaitu ukuran crane yang kecil sehingga tidak bisa mengangkat kontainer besar.
“Kami berharap Pelindo II bisa mencarikan solusi hal ini sehingga ekspor produk asal Sumbar bisa berjalan dengan baik,” ujarnya. (usm/hdl/antara)










