Jakarta (pilar.id) – Kepala Biro Perekonomian dan Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta Mochamad Abbas mengatakan, Jakarta akan tetap mempertahan kontribusi ekonomi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional setelah perpindahan ibu kota negara nanti. Hal itu dilakukan dengan cara menjaga lapangan usaha dan menumbuhkan ekonomi baru perkotaan.
“Serta, menjadikan Jakarta nantinya sebagai pusat investasi dan finansial,” kata Abbas, di Jakarta, Senin (30/5/2022).
Adapun strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menggenjot perekonian adalah dengan memperbaiki sistem logistik arus barang dan transisi industri ramah lingkungan. Sektor perdagangan dan industri pengolahan akan menjadi 2 sektor lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar untuk ekonomi Jakarta.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Onny Widjanarko mengatakan, terdapat beberapa sektor potensial yang perlu digarap untuk memajukan perekonomian Jakarta. Kelima sektor tersebut adalah jasa kesehatan, transportasi pergudangan, akomodasi makanan dan minumanan, dan sektor jasa untuk mendukung pemulihan ekonomi.
“Saya kira barangnya sudah ada, tinggal diakselerasi, peluangnya didapat pasti, nanti,” kata Onny.
Onny menambahkan khusus untuk industri otomotif sudah menemukan bentuknya di Jakarta. Bahkan produksi kendaraan bermotor di Jakarta menempati peringkat satu dengan pangsa pasar 17 persen dari total nasional.
Apalagi, tahun 2040 pertumbuhan kendaraan listrik sebesar 51 persen. Sementara perpindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) akan dilakukan pada 2045. Hal ini menuntut keseriusan serta fokus Pemda DKI Jakarta untuk menggarap potensi tersebut.
“Apalagi ada mobil listrik, ini kesempatan Jakarta untuk tumbuh,”
Sementara itu, ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, Jakarta perlu melakukan berbagai upaya serius, terstuktur, dan terencana agar tetap sustainable. Perpindahan IKN menjadi tantangan baru bagi Jakarta untuk semakin maju dan memperkuat strategi pembangunannya ke depan.
Ia menyampaikan, dampak perpindahan ibu kota akan mempengaruhi pendapatan asli daerah (PAD). Selain itu, investasi juga diprediksi bakal turun.
“Meskipun kecil setidaknya ini menjadi ancang-ancang, bahwa pemindahan ibu kota berpotensi akan menurunkan investasi. Meskipun tidak sampai pada angka 0,5 persen,” kata Rizal.
Rizal juga menyampaikan, berdasarkan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) perpindahan IKN berpotensi hilangya pendapatan ekonomi Jakarta dalam jangka pendek sebesar Rp35 triliun. Sedangkan potensi kehilangan dalam jangka panjang sebesar Rp65 triliun.
“Kalau menurut Atas Dasar Harga Konstan itu sekitar Rp22 triliun, kalau jangka panjangnya Rp41 triliun. Ini pendapatannya akan hilang,” kata Rizal.(ach/hdl)










