Surabaya (pilar.id) – Momen wisuda ke-233 Universitas Airlangga (Unair) tidak hanya membawa kebahagiaan bagi semua wisudawan, tetapi juga menjadi catatan penting dalam perjalanan pendidikan Dayinta Annisa Syaiful.
Ia berhasil meraih dua gelar sekaligus dari program magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair dan Master of Global Public Health di Griffith University, Australia. Prestasi gemilang ini menggambarkan kerja keras dan tekadnya dalam mengejar ilmu.
Semangat Dayinta untuk merasakan sistem pendidikan di luar negeri membawanya meraih gelar ganda ini. Sejak tingkat sarjana, ia telah menjelajahi berbagai peluang pendidikan. Pada akhirnya, ia menemukan program kerja sama antara K3 Unair dan Griffith University yang membawanya kepada kesuksesan ini.
“Ketika itu, saya mengikuti Airlangga Scholarship Fair. Saat mampir di booth Griffith University, saya mengetahui tentang kerja sama double degree K3 antara Unair dan Griffith University. Sejak saat itu, saya yakin untuk masuk ke program K3 dengan harapan melanjutkan ke jenjang S2 dan mendapatkan double degree,” jelas Dayinta.

Namun, Dayinta tak hanya merangkap peran sebagai mahasiswa. Wanita asal Gresik ini juga bekerja sebagai food handler di Gold Coast University Hospital.
Proses belajar sambil bekerja ini membuat Dayinta merasa sangat puas, terutama karena pekerjaannya sejalan dengan minatnya. Dia memanfaatkan kesempatan ini untuk terus belajar dan memperluas pengetahuannya, terutama dalam bidang K3 yang telah menjadi fokusnya.
“Tempat kerja saya sangat peduli dengan K3. Saya belajar banyak di sana, bahkan hal sekecil meletakkan material safety data sheets. Meskipun saya seorang food handler, tetapi aspek K3 tetap diperhatikan,” paparnya.
Tak hanya itu, Dayinta juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Dia menjadi anggota organisasi Islam di Griffith University dan turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di dalamnya.
Prestasi Dayinta tak hanya sebatas akademik, tetapi juga melibatkan berbagai peran dalam berbagai kegiatan penting. Salah satunya adalah Logan Eco Action Festival, sebuah program yang diinisiasi kerja sama antara Griffith Sustainability, Australasian Campuses Towards Sustainability (ACTS), dan UN SDGs.
Meskipun begitu, Dayinta mengakui sempat merasa ragu untuk melanjutkan studinya, terutama setelah kepergian ayahnya pada 2021. Namun, pesan dari sang ayah untuk terus mengejar ilmu memberinya motivasi untuk terus maju.
“Walaupun sempat meragukan untuk melanjutkan, saya ingat pesan ayah saya, bahwa ilmu harus diperjuangkan sekeras mungkin karena Allah akan meninggikan derajat orang berilmu. Pesan itu memberi saya motivasi untuk terus melanjutkan pendidikan,” ungkap Dayinta.
Dayinta menceritakan bahwa selama mengejar double degree, ia merasakan dukungan luar biasa dari berbagai pihak. Keluarga adalah sumber dukungan utama, namun juga ada dukungan dari seluruh elemen Unair yang membantunya dalam perjalanan studi.
“Sebenarnya enggak ada kendala, dari dosen pembimbing K3, Bu Indri, itu benar-benar number one supporter. Pihak-pihak Unair yang terlibat juga baik dan helpful banget, jadi Alhamdulillah enggak ada kesulitan. Di Griffith juga banyak banget program untuk self help,” paparnya.
Setelah lulus pada Minggu (13/8/2023) di Airlangga Convention Center (ACC), Dayinta penuh dengan harapan untuk masa depannya. Ia ingin berkontribusi untuk masyarakat dan melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan ini, ia berharap dapat memberikan lebih banyak ilmu dan manfaat kepada lingkungannya.
“Semoga aku bisa bermanfaat untuk orang banyak. Karena dari harapan sesederhana itu, aku bisa menebar manfaat misalnya melalui riset untuk nanti dipublikasi, transfer ilmu ke teman-teman, dan tentunya membawa sisi-sisi baik dari Australia ke Indonesia,” tutupnya. (ipl/hdl)










