Jakarta (pilar.id) – Kasus covid-19 varian Omicron di Indonesia terus bertambah. DKI Jakarta menjadi daerah yang paling banyak korban terpapar varian tersebut. Hal itu menguatkan kekhawatiran munculnya gelombang ketiga pandemi di Indonesia.
Peneliti senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Fajar B. Hirawan mengatakan, beberapa daerah sudah melakukan antisipasi. Di Jakarta, level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sudah dinaikkan.
“Memang kita berharap tidak terjadi gelombang ketiga, sehingga proses pemulihan ekonomi tidak terganggu,” kata Fajar kepada Pilar.id, Senin (17/1/2022).
Menurutnya, gelombang ketiga pandemi tidak hanya mengganggu sektor kesehatan, tetapi akan mengancam sektor ekonomi di Tanah Air. “Memang salah satu ancaman ekonomi Indonesia, salah satunya adalah penyebaran omicron ini. Pemerintah harus mengantisipasinya sejak dini,” ujarnya.
Sebelumnya, kasus pertama varian Omicron terdeteksi pada seorang seorang petugas kebersihan berinisial N yang bekerja di RSDC Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. Kasus ini terdeteksi pertama kali pada pertengahan Desember 2021 lalu. Namun, penemuan kasus ini kemudian disusul dengan kebijakan pembatalan PPKM di masa Natal dan Tahun Baru.
Sejak saat itu, penyebaran virus corona varian Omicron ini mulai terdeteksi di sejumlah daerah di Indonesia. Terjadinya gelombang Omicron di Indonesia memang tak terhindarkan. Dari hari ke hari, penambahan kasus baru varian asal Afrika tersebut terus terjadi di Indonesia. Per hari Sabtu (15/1/2022), total ada 748 kasus Omicron.
Kasus ini masih didominasi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) yang baru tiba di Indonesia. Dari 748 kasus, 569 di antaranya merupakan PPLN. Sementara, 155 sisanya adalah transmisi lokal. Di samping itu, saat ini terdapat 1.800 kasus probable Omicron yang masih terus diteliti. (her/tur)










