Surabaya (pilar.id) – Kenaikan harga beras belakangan ini menjadi sorotan utama dalam berbagai diskusi terkait kondisi ekonomi dan sosial. Hal ini tidak hanya mempengaruhi aspek ekonomi semata, namun juga memiliki dampak yang dalam dalam konteks budaya dan sosial masyarakat.
Sebagai salah satu komoditas pangan utama, beras tidak hanya memiliki makna praktis sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga memiliki nilai simbolis dan budaya yang mendalam bagi masyarakat Indonesia.
Prof. Dr. Phil Toetik Koesbardiati DFM PA(k), seorang pakar Paleoantropologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, menjelaskan mengenai fenomena ini. Menurutnya, ketergantungan pada beras mencerminkan struktur sosial yang kompleks di masyarakat.
“Beras memegang peran sentral dalam pemenuhan kebutuhan karbohidrat dan mencerminkan kelas sosial dalam pola penggunaan dan pengelolaannya,” ujarnya.
Sejarah domestikasi makanan pokok mencatat bahwa padi, sebagai sumber karbohidrat utama, telah menjadi bagian integral dari budaya pangan di Asia, khususnya di Indonesia, selama ribuan tahun. Meskipun demikian, pengetahuan akan sumber karbohidrat alternatif seperti sagu dan umbi-umbian juga telah ada dalam budaya masyarakat Indonesia sejak dulu.
Profesor FISIP UNAIR menjelaskan bahwa konsumsi beras di Indonesia sejarahnya terkait dengan upaya mencapai swasembada beras yang sering menjadi fokus pembangunan. Namun, ketergantungan yang berlebihan pada beras seringkali menimbulkan ketidaknyamanan sosial ketika pasokan berkurang.
Dalam konteks ini, kenaikan harga beras memicu kekhawatiran dan kepanikan di masyarakat, meskipun kesadaran akan alternatif pangan telah banyak disosialisasikan. Namun, menurut Prof. Toetik, kembali mengadopsi konsep pola makan manusia zaman dulu, yang dikenal sebagai Paleo Diet, bisa menjadi solusi yang layak untuk mengatasi masalah ini.
“Paleo Diet mengajarkan untuk mengonsumsi bahan makanan minim lemak dan tanpa proses pengolahan yang rumit, seperti biji-bijian dan umbi-umbian, sehingga tidak lagi tergantung pada beras,” paparnya.
Dengan demikian, penggunaan alternatif sumber karbohidrat dapat menjadi langkah yang lebih berkelanjutan dan lebih adaptif terhadap kondisi harga beras yang fluktuatif. (rio/ted)










