Jakarta (pilar.id) – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, jumlah perokok anak meningkat dari 7,2 persen pada 2013 menjadi 9,1 persen pada 2018.
Karena itu, pemerintah menargetkan untuk menurunkan prevalensi perokok anak hingga menjadi 8,7 persen pada 2024 mendatang.
“Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 prevalensi merokok anak ditargetkan menjadi 8,7 persen,” kata Sri Mulyani, di Jakarta, Senin (12/12/2022).
Adapun yang dimaksud dengan perokok anak yaitu, berusia antara 10 hingga 18 tahun. Upaya pengendalian perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Sri Mulyani juga mengungkapkan, prevalensi perokok dewasa juga sangat tinggi. Bahkan, untuk prevalensi perokok laki-laki dewasa menempati urutan pertama di dunia, dengan jumlah 71,3 persen.
“Meskipun prevalensi merokok dewasa itu 37,6 persen atau yang ke-5 tertinggi di dunia,” sambung Sri Mulyani.
Menurut Sri Mulyani, salah satu faktor jumlah perokok di Indonesia sangat tinggi karena harga yang tergolong relatif murah. Berdasarkan sumber World Health Organization (WHO) tahun 2021, menyebutkan harga rokok Indonesia hanya US$2,1 atau di bawah rata-rata dunia, yakni US$4. WHO juga menyebutkan, Australia menjadi negara yang paling mahal menjual rokoknya, US$21.
“Tentunya kita juga tahu, selain harga, ada juga faktor-faktor lain seperti iklan, pendidikan, serta akses yang mudah untuk membeli rokok,” kata dia.
Sri Mulyani menambahkan, rokok merupakan komponen pengeluaran terbesar ke-2 bagi rumah tangga, baik di perkotaan maupun pedesaan. Fakta ini tentu menjadi dilema tersendiri. Pasalnya, perlu kerja keras untuk mengedukasi masyarakat agar membelanjakan uangnya kepada barang-barang prioritas atau sumber pangan bergizi.
“Terutama untuk kebutuhan anak-anak, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi lebih sehat dan produktif,” kata Sri Mulyani. (ach/din)



