Jakarta (pilar.id) – Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei terbarunya ihwal isu perpanjangan masa jabatan presiden. Hasilnya, mayoritas masyarakat menolak perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Sekitar 48 persen warga tahu atau pernah dengar tentang usulan perpanjangan masa jabatan presiden Jokowi hingga tahun 2027,” kata Djayadi dalam paparannya yang disaksikan secara daring, Kamis (3/3/2022).
Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan menjabarkan, ada tiga alasan yang dimasukkan ke dalam pertanyaan survei, yaitu terkait dengan belum berakhirnya pandemi covid-19, pemulihan ekonomi, dan keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN).
Yang setuju pendapat Presiden Jokowi diperpanjang masa jabatannya hingga 2027 tanpa Pemilu karena pandemi yang belum berakhir sekitar 20,3 persen sedangkan 70,7 persen publik tidak setuju.
Sementara itu, masyarakat yng setuju jabatan Presiden Jokowi diperpanjang karena harus memulihkan perekonomian akibat pandemi hanya sekitar 24,1 persen, sedangkan 68,1 persen tidak setuju.
“Yang setuju pendapat Presiden Jokowi diperpanjang masa jabatannya hingga 2027 tanpa Pemilu karena harus memastikan pembangunan IKN berjalan dengan baik, sekitar 22,3 persen. Mayoritas masyarakat atau sebanyak 69,6 persen tidak setuju,” kata dia.
Apapun alasannya, kata Djayadi, sesuai konstitusi Presiden Jokowi harus mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2024, termasuk pada kelompok yang puas atas kinerja Jokowi sebagai presiden. Jika semakin tidak puas pada kinerja Presiden, maka dukungan bahwa Jokowi harus mengakhiri masa jabatannya tahun 2024 sesuai dengan konsititusi, semakin tinggi.
Djayadi juga menjelaskan metodologi survei. Dalam situasi pembatasan sosial yang luas diterapkan di hampir seluruh wilayah Indonesia, sulit mengetahui secara cepat dinamika persepsi publik atas isu-isu mutakhir dengan mengandalkan survei tatap muka langsung dengan responden.
Oleh karena itu, survei menggunakan kontak telepon kepada responden adalah cara yang paling mungkin dilakukan. Responden dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan LSI pada rentang Maret 2018 hingga Juni 2021.
Sebanyak 296,982 responden yang terdistribusi secara acak di seluruh Indonesia pernah diwawancarai secara tatap muka langsung dalam rentang 3 tahun terakhir. Secara rata-rata, sekitar 71 persen di antaranya memiliki nomor telepon.
Jumlah sampel yang dipilih secara acak untuk ditelpon sebanyak 12,613 data, dan yang berhasil diwawancarai dalam durasi survei yaitu sebanyak 1.197 responden. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel basis sebanyak 1.197 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error atau MoE) ±2,89 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional. Survei ini mewakili 71 persen dari populasi pemilih nasional. (her/fat)









