Ponorogo (pilar.id) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi melakukan topping off atau peletakan mortar terakhir pada pembangunan Gedung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Rumah Sakit Umum (RSU) Muslimat NU Ponorogo, Rabu (14/5).
Gedung yang terdiri dari tujuh lantai ini ditargetkan mulai beroperasi pada Januari 2026 sebagai kado satu abad Nahdlatul Ulama (NU) versi tahun Masehi.
Khofifah menyampaikan optimisme bahwa hadirnya fasilitas baru ini akan memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, serta berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), dan prevalensi stunting di Ponorogo dan sekitarnya.
“Rumah sakit ini akan menjadi referensi kebahagiaan, bukan hanya untuk warga NU Ponorogo, tetapi juga masyarakat umum sekitar, khususnya layanan tumbuh kembang anak,” ujar Khofifah.
Peningkatan layanan RSU Muslimat NU disebut selaras dengan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung program Asta Cita Presiden RI, khususnya melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) kedua, yang mencakup pemeriksaan kesehatan gratis, penanggulangan TBC, serta pembangunan rumah sakit berkualitas di daerah.
Khofifah menambahkan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan ini sejalan dengan Nawa Bhakti Satya keempat, yaitu Jatim Sehat, dengan tujuan mewujudkan health for all yang berkualitas, merata, mudah diakses, dan berkeadilan.
“Kami berterima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada RSU Muslimat NU Ponorogo atas kontribusinya dalam pembangunan kesehatan di Jatim,” ujarnya.
Sebagai Ketua Umum Dewan Pembina Muslimat NU, Khofifah menegaskan bahwa proyek ini juga merupakan cerminan dari cita-cita besar para masayikh NU, yang ingin menjadikan NU sebagai motor penggerak pembangunan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan rumah sakit untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus mempermudah akses masyarakat.
“Mari jadikan momen ini sebagai penyemangat untuk terus berinovasi, meningkatkan mutu pelayanan, dan menjamin kenyamanan serta keselamatan pasien,” tambahnya.
Gedung Gus Dur sendiri diharapkan mampu merefleksikan komitmen almarhum KH Abdurrahman Wahid dalam memperjuangkan layanan kesehatan yang inklusif dan berkeadilan di lingkungan NU.
Prosesi topping off turut dihadiri oleh Rais Syuriyah PBNU, Bupati Ponorogo, Forkopimda Kabupaten Ponorogo, dan Direktur RSU Muslimat Ponorogo. (rio/ted)









