Surabaya (pilar.id) – Guru Besar Ilmu Ekonomi Islam dan Keuangan Sosial Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi, menyoroti pentingnya digitalisasi dalam tata kelola zakat di Indonesia.
Zakat, sebagai kewajiban umat Islam untuk memberikan sebagian harta kepada golongan yang berhak menerima, memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Potensi zakat di Indonesia cukup besar. Sekitar 10 tahun lalu, zakat yang terkumpul mencapai 200 triliun dan saat ini meningkat menjadi sekitar 300 triliun,” jelas Prof Tika.
Meskipun memiliki potensi besar, zakat juga menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait dengan tata kelola. Menurut Prof Tika, lembaga pengelola zakat perlu menjadi lebih modern dan akuntabel dalam mengelola dana zakat untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat.
“Kasus-kasus yang melibatkan lembaga pengelolaan zakat seringkali membuat kepercayaan masyarakat menurun. Oleh karena itu, lembaga-lembaga tersebut harus lebih transparan dan akuntabel dalam mengelola zakat,” tambah Prof Tika.
Salah satu masalah yang dihadapi adalah ketidaktransparanan dalam penyaluran zakat oleh muzakki (orang yang membayar zakat) kepada lembaga yang tidak resmi terdaftar sebagai pengelola zakat. Dengan demikian, digitalisasi zakat dianggap sebagai solusi yang efektif. Melalui digitalisasi, masyarakat dapat dengan mudah melacak zakat yang mereka bayarkan dan memastikan bahwa dana tersebut disalurkan dengan benar.
“Walaupun beberapa lembaga sudah menerapkan digitalisasi, namun masih sedikit yang diketahui oleh masyarakat. Oleh karena itu, komitmen dari lembaga-lembaga tersebut untuk melakukan digitalisasi zakat perlu ditingkatkan guna meningkatkan transparansi dalam pengelolaan zakat,” pungkas Prof Tika.
Dengan adanya digitalisasi, diharapkan lembaga pengelola zakat dapat kembali dipercaya oleh masyarakat dalam menyalurkan zakat mereka. (ipl/hdl)










