Surabaya (pilar.id) – Yayasan Surabaya Juang mempersembahkan pementasan teater bertajuk Bung Tomo Pandu Garuda untuk mengenang perjuangan dan semangat kepahlawanan Sutomo atau Bung Tomo. Acara ini digelar Sabtu, 30 November 2024, di Tugu Pahlawan, Surabaya, dan melibatkan 400 aktor serta berbagai komunitas seni Jawa Timur.
Pembina Yayasan Surabaya Juang, Heri Lentho, menyebut pementasan ini bertujuan menggugah kesadaran publik akan nilai-nilai kepahlawanan Bung Tomo.
“Nasionalisme Bung Tomo lahir dari bumi kepanduan Indonesia. Lewat orasinya, ia mempersatukan banyak pihak untuk mempertahankan kemerdekaan. Itulah yang menjadi inti tema pementasan ini,” ujar Heri.
Lakon ini tidak hanya menyoroti sisi heroik Bung Tomo dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945, tetapi juga perjalanan hidupnya yang penuh inspirasi. Mulai dari perjuangan sebagai jurnalis, keberaniannya memimpin perlawanan, hingga sisi romantisme dengan istrinya, Sulistina.
Bung Tomo Pandu Garuda adalah hasil kolaborasi berbagai komunitas seni, seperti Sanggar Karawitan BALADEWA, Surabaya Menari, Rooderbrug Surabaya, hingga Museum TNI AL. Penampil individu seperti Pritta Kartika dari The Voice Indonesia dan Proborini Sinden Joss turut memeriahkan acara.
Dibuka dengan lantunan lagu-lagu kebangsaan dan koreografi bertema perjuangan, pementasan ini menggambarkan perjalanan Bung Tomo yang mengambil inspirasi dari pemikiran Soekarno, guru politik tidak langsungnya. Seperti Soekarno, Bung Tomo dikenal karena pidato-pidatonya yang mampu membakar semangat rakyat Surabaya untuk melawan penjajah.
Bung Tomo: Sosok Pejuang Tegas dan Romantis
Bung Tomo, dengan karakter ceplas-ceplos khas Arek Suroboyo, tak segan berselisih dengan para pemimpin bangsa jika merasa ada yang bertentangan dengan prinsipnya. Ia memilih memimpin perjuangan di medan perang daripada berdiplomasi.
Namun, di balik keberaniannya, Bung Tomo juga dikenal romantis. Kisah cintanya dengan Sulistina menjadi salah satu babak yang disorot dalam pementasan. Sulistina menjadi penyemangat hidup Bung Tomo hingga akhir hayatnya, termasuk saat mendampinginya dalam perjalanan haji pertamanya.
Pertempuran Surabaya yang dipimpin Bung Tomo disebut Sekutu sebagai Hell from Surabaya—neraka di Surabaya. Perlawanan heroik itu membuka mata dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang tidak mudah menyerah.
“Bung Tomo adalah simbol keberanian dan persatuan. Ia menunjukkan bahwa perjuangan melawan penjajah tidak hanya soal senjata, tetapi juga semangat dan tekad,” pungkas Heri. (usm/hdl)










