Jakarta (pilar.id) – Rancangan Undang-Undang (RUU) Ibu Kota Negara (IKN) baru telah disahkan menjadi UU. Dengan begitu, IKN Nusantara membutuhkan pemimpin. Nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) masuk ke dalam bursa kandidat calon Kepala Otoritas IKN Nusantara.
Tak main-main, nama Ahok muncul sendiri dari mulut Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang diungkapkan pada Maret 2020 lalu.
Pakar Komunikasi Politik, Lely Arrianie menilai, potensi Ahok dipilih Jokowi untuk menjadi Kepala Otorita IKN Nusantara terbuka lebar. Karena, biasanya yang paling dekat dengan kekuasaan saat ini akan diprioritaskan. Kecenderungan itu selalu ada, yang punya kekuasaan selalu membangun jejaring, dengan menempatkan orang-orang dekatnya.
“Tiak mungkin Jokowi memilih orang yang tidak dapat dipercaya, tidak sealiran, dan sepaham. Jadi ibaratnya kalau dalam teori relasi politik itu teori patron klien,” kata Lely kepada Pilar.id melalui sambungan telepon, Rabu (19/1/2022).
Di sisi lain, menurut Lely, Ahok memiliki kapasitas dan loyalitas untuk menjadi pemimpin di IKN Nusantara. Kata dia, Ahok adalah sosok politisi yang sarat akan pengalaman di pemerintahan. Mulai jadi Bupati Bangka Belitung Timur hingga Gubernur DKI Jakarta.
Apalagi, Ahok merupakan orang yang tegas dan sama sekali tidak berpihak pada perilaku koruptif. Jika Ahok dipilih sebagai pemimpin IKN baru, otomatis anak buahnya tidak akan berani melakukan tindakan yang berhubungan dengan korupsi.
“Ahok punya kapasitas (menjadi Kepala Otorita IKN Nusantara). Karena biar bagaimanapun dia pernah menggantikan Pak Jokowi. Secara pengalaman di birokrasi dan jabatan politik, dia sudah punya kemampuan dibandingkan orang asing,” kata dia.
Terpenting, menurut Lely, Ahok sudah banyak belajar dari kasus yang menimpanya saat kampanye Pilkada 2017 lalu. Kala itu, dia dicap sebagai penista agama karena dianggap salah tafsir saat menyebut ayat suci Alquran dalam kampanyenya di Pulau Seribu.
“Menurut saya, Ahok akan belajar dari pengalaman lalu. Pasti dia sudah banyak belajar nilai-nilai struktur mayoritas yang perlu dipertimbangkan,” ujar Lely.
Lely juga tak lupa memberikan saran dan masukan kepada politisi PDIP tersebut. Kata Lely, ada tiga hal yang harus dilakukan Ahok jika terpilih menjadi Kepala Otorita IKN Nusantara. Pertama, Ahok harus menyadari bahwa dia berasal dari golongan minoritas. Jangan sekali-kali menyentuh aspek yang sensitif dari kehidupan di Indonesia yang beragam. Ahok juga diharapkan tidak berbicara sesuatu di luar pengetahuannya.
Kedua, Ahok harus bisa mengontrol emosinya. Karena zaman sekarang orang tidak bisa lagi meletakan diri secara sembarangan, sekalipun dia sebagai pemimpin suatu wilayah. Dia hanya berkuasa untuk bawahannya saja, tapi tidak untuk masyarakat biasa.
Ketiga, Ahok harus menjunjung sekaligus menjaga budaya dan adat istiadat setempat meskipun nantinya akan dibangun model IKN baru yang multikultural karena banyaknya orang pindah ke Kalimantan Timur.
Selain itu, pria yang kerap disapa BTP itu harus bisa membangun relasi komunikasi antarbudaya. Hal itu untuk menjaga agar tidak terjadi kecemburuan antara penduduk asli dengan para pendatang.
“Mungkin Ahok akan memboyong birokrat, tapi jangan sampai berbenturan dengan potensi lokal. Karena belum tentu potensi lokal itu lebih jelek dari potensi pusat,” tegasnya. (her/din)









