Jakarta (pilar.id) – Anies Baswedan, bakal calon presiden (capres), menjadi pembicara utama dalam acara Simposium Asosiasi Alumni Universitas Islam Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia, yang diadakan pada Rabu (11/10/2023).
Acara 40th Anniversary Symposium di International Islamic University Alumni Association ini juga mengundang kehadiran Dato Sri Wan Azizah, istri Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang memberikan doa untuk kesuksesan Anies di masa depan.
Dalam kata sambutannya, Anies mengungkapkan pandangan bahwa asosiasi ini bukan hanya tempat berkumpulnya individu-individu berprestasi, tetapi lebih dari itu, merupakan wujud dari komitmen dan dedikasi terhadap nilai-nilai yang menjadikan dunia Islam sebagai panduan untuk banyak orang di seluruh dunia.
Anies menjelaskan dalam pidatonya berbagai aspek sejarah Islam, termasuk masa keemasan Islam pada era pertengahan, penyebaran Islam ke Asia Tenggara, dan peran penting pondok pesantren di Indonesia dalam mengajarkan agama, karakter, dan ilmu pengetahuan.
Ia menyebutkan bahwa pada masa keemasan Islam di abad pertengahan, negara-negara Islam bukan hanya tempat untuk pencarian spiritualitas, tetapi juga menjadi pusat pengetahuan dengan berbagai inovasi yang mereka hasilkan. Anies mencontohkan peran penting ilmuwan dan tokoh terkemuka Islam seperti Ar-Razi, Ibnu Sina, Al Battani, dan lainnya di berbagai bidang ilmu.
“Kenapa kita harus mengenang masa itu? Karena ini bukan sekadar mengenang kejayaan masa lalu, melainkan pengingat bahwa semangat, keingintahuan, ketekunan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap pengetahuan transformatif adalah bagian dari DNA kita,” kata Anies pada Rabu (11/10/2023).
Menurut Anies, masa keemasan Islam dapat memberikan inspirasi dalam meraih masa depan yang lebih cerah. Ia juga membahas proses masuknya Islam ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana orang-orang setempat mengadopsi Islam dan terus mengejar ilmu pengetahuan tanpa henti. Hal ini mencerminkan tekad kuat dalam mencapai pencerahan.
Anies menggarisbawahi pentingnya budaya lokal dan nilai-nilai Islam yang saling bersatu dalam peradaban Islam di Asia Tenggara, menciptakan kekayaan kultural yang melandasi kehidupan.
Menurutnya, Islam tiba di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, melalui cara yang sangat berbeda, yaitu melalui budaya, sastra, perdagangan, dan yang terpenting, pendidikan pesantren yang telah lama menjadi penjaga kearifan ini.
Anies memaparkan bahwa pondok pesantren di Indonesia selama berabad-abad telah berfungsi bukan hanya sebagai tempat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai pusat komunitas yang membentuk karakter dan mendorong semangat penelitian, penelitian, dan penemuan ilmiah.
Selain itu, Anies berbicara tentang langkah-langkah penting dalam pengembangan pendidikan Islam yang relevan secara global. Ini mencakup pendekatan lintas disiplin ilmu, integrasi teknologi, penelitian dan pengembangan, praktik berkelanjutan, serta dialog antar-umat beragama.
Ia juga menegaskan pentingnya kerja sama antara Indonesia dan Malaysia dalam memperkuat hubungan kolaboratif antara kedua negara.
Simposium ini menjadi ajang penting untuk berbagi pemikiran dan pandangan tentang sejarah dan masa depan Islam, serta peran penting ilmuwan Muslim dan pendidikan pesantren dalam mencapai pencerahan dan kemajuan. Semoga hasil diskusi ini menjadi inspirasi bagi masa depan yang lebih baik. (rio/ted)








