Jakarta (pilar.id) – Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Reynaldi Sarijowan mengungkapkan, sejak awal pangkal masalah minyak goreng terjadi pada 1 Februari 2022. Yakni, ketika pemerintah menetapkan kebijakan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng kemasan dan curah.
Kebijakan saat ini yang mencabut HET minyak goreng kemasan dan melepasnya pada mekanisme pasar menjadi bencana. Terutama, bagi masyarakat kelas bawah. Dampaknya, harga minyak goreng kemasan tak terbendung, lebih dari Rp23.000 per liternya.
Di sisi lain, pasokan atau stok minyak goreng curah di pasar tradisional terkendala. Di beberapa titik, termasuk di Jawa Barat, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), pasokan minyak goreng curah mengkhawatirkan.
“Yang biasanya pedagang dikirim tangki minyak goreng itu satu pekan bisa empat hingga lima kali, sekarang hanya satu pekan satu kali,” kata Reynaldi, Sabtu (19/3/2022).
Maka dari itu, dia berharap agar pemerintah bisa memenuhi ketersediaan pasokan minyak goreng curah. Mengingat, sebentar lagi masyarakat Indonesia akan memasuki bulan Ramadan. “Tentunya, suplai minyak goreng curah harus merata dan terdistribusi di seluruh pasar tradisional Indonesia,” tegasnya.
Kelangkaan minyak goreng curah di pasar tradisional terjadi tepat setelah pemerintah menggelontorkan subsidi untuk minyak goreng curah dan mencabut aturan HET untuk minyak goreng kemasan sederhana dan premium.
Kekosongan stok salah satunya terjadi di Pasar Senen, Jakarta. Pasokan minyak goreng curah kosong saat Mendag Lutfi sidak pada Kamis (17/3/2022). Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan mengklaim, pasokan minyak goreng curah baru saja akan dikirim.
“Ini baru mau datang karena di sini pasokannya 10 hari sekali. Di sini minyak goreng curah tidak seperti yang lain,” ungkap Oke.
Di sisi lain, pasokan minyak goreng kemasan langsung membanjiri ritel modern. Mendag Lutfi melakukan pemantauan minyak goreng di sejumlah ritel modern, yaitu di TipTop Rawamangun, Jakarta Timur dan Diamond Artha Gading, Jakarta Utara pada Jumat (18/3/2022).
Hasil pantauan menunjukkan minyak goreng dan barang kebutuhan pokok (bapok) tersedia. Lutfi menjelaskan, minyak goreng kemasan sudah mulai normal, bahkan melimpah.
Berdasarkan informasi dari penjual, banyaknya permintaan toko (service level) terhadap kebutuhan minyak goreng sudah bisa dipenuhi 100 persen. Nantinya jika merk minyak goreng makin banyak, harganya akan menurun sesuai dengan kompetisi dan leveling dari market mereka.
“Kita akan kerjakan bersama-sama. Mudah-mudahan kita dapat menghasilkan harga yang lebih baik pada waktu yang tidak akan lama. Diperkirakan dalam seminggu ke depan merek-merek sudah mulai keluar dan harganya sudah bisa lebih baik,”
ungkap Lutfi.
Sebagai informasi, pemerintah hanya memberikan subsidi kepada minyak goreng curah. Namun, HET minyak goreng curah naik dari Rp11.500 per liter menjadi Rp14 ribu per liter. Sementara, harga minyak goreng kemasan sederhana dan premium ditetapkan dengan skema pasar. Ketika harga CPO naik, maka harga minyak goreng kemasan akan mengikuti. (fat/antara)







