Ringkasan Berita
- Kasus kenakalan remaja di Surabaya turun drastis dalam setahun
- Pemkot ubah pola penanganan jadi lebih intensif dan terstruktur
- Kebijakan jam malam jadi faktor penting penurunan kasus
- Program pembinaan dilakukan di Rumah Aman selama 7–14 hari
- Edukasi keluarga dan lingkungan ikut diperkuat
Surabaya (pilar.id) – Pemerintah Kota Surabaya mencatat penurunan signifikan kasus kenakalan remaja setelah menerapkan strategi baru yang lebih komprehensif. Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), pendekatan pembinaan kini difokuskan pada edukasi berkelanjutan, bukan sekadar penanganan jangka pendek.
Kepala DP3APPKB, Ida Widayati, mengungkapkan bahwa jumlah kasus yang sebelumnya mencapai lebih dari 450 dalam satu tahun kini turun drastis menjadi di bawah 100 kasus. Penurunan ini tidak hanya dipengaruhi kebijakan jam malam bagi anak, tetapi juga perubahan sistem pembinaan yang lebih terstruktur.
Dalam skema baru, remaja yang terlibat pelanggaran seperti konsumsi minuman keras, tawuran, hingga aktivitas geng motor tidak lagi langsung dipulangkan setelah penanganan awal. Mereka ditempatkan di Rumah Aman untuk mengikuti program pembinaan intensif selama 7 hingga 14 hari.
Selama masa tersebut, para remaja mendapatkan pendampingan psikologis, edukasi mengenai dampak kriminalitas, bahaya narkoba, serta penguatan nilai kebangsaan. Pemerintah kota juga memastikan aspek pendidikan tetap berjalan dengan memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk menerapkan pembelajaran daring.
Program yang mulai dijalankan sejak pertengahan tahun lalu ini dinilai efektif menekan angka pelanggaran sekaligus meningkatkan kesadaran remaja. Data menunjukkan jumlah peserta pembinaan di Rumah Aman terus menurun, menandakan efek jera sekaligus perubahan perilaku yang lebih positif.
Selain fokus pada pembinaan individu, Pemkot Surabaya juga memperkuat peran keluarga melalui edukasi kepada orang tua. Langkah ini diambil untuk meningkatkan pengawasan dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi perkembangan anak.
Kombinasi antara kebijakan preventif seperti jam malam dan pendekatan kuratif melalui pembinaan intensif dinilai menjadi kunci keberhasilan program ini. Pemerintah berharap tren positif ini dapat terus berlanjut, sekaligus membentuk generasi muda yang lebih produktif dan berdaya saing di masa depan. (usm)










