Jakarta (pilar.id) – Teman satu profesi tiba-tiba melempar kabar melalui pesan singkat. Ku pikir itu hanya basa-basi karena lama tak bersua. Ternyata kabar buruk itu. Dia terkena virus asli China, covid-19. Virus yang didominasi oleh varian Omicron itu telah merasuki tubuhnya.
Benar, Indonesia saat ini mengalami gelombang ketiga pandemi covid-19. Penularannya begitu cepat. Status media sosial yang tadinya dipenuhi oleh hal-hal sampah, kini dihiasi potret orang yang terpapar covid-19. Gambaran itu menujukan bahwa virus menyebalkan ini sudah menyerang orang-orang terdekat kita. Tak ada kata lain, waspada.
Kalau sudah begitu, tak ada yang bisa dilakukan selain mengencangkan kembali protokol kesehatan. Masyarakat dan pemerintah harusnya sama-sama sibuk menangkal virus ini. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Agar nantinya kita bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. Bisa nge-mal tanpa harus scan barcode aplikasi PeduliLindungi.
Kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmidzi, kita harus tetap tenang dan jangan panik walaupun Omicron menyebar di langit-langit rumah. Tapi faktanya meski tak seganas varian terdahulu, Delta, tetap saja Omicron itu virus, bukan vitamin yang menyehatkan badan.
Menurut dia, kita semua sudah terbiasa melihat angka kasus yang naiknya perlahan saat varian Delta beberapa waktu yang lalu. Jadi, ketika melihat lonjakan kasus yang sebagian besar disebabkan varian Omicron menjadi panik. Memang begitu adanya.
“Kami imbau masyarakat untuk tetap tenang, namun tetap waspada,” kata Nadia, Jumat (11/2/2022).
Dia melanjutkan, meskipun kasus naik dengan cepat karena penyebaran virus lebih kencang dibanding Delta, namun gejala Omicron tidak separah varian Delta dengan sebagian besar pasien tanpa gejala (OTG) dan bergejala ringan.
“Kita dapat lihat dari angka keterisian tempat tidur dan isolasi covid-19 di rumah sakit masih sangat terkendali, dibanding tahun lalu,” katanya, lagi.
Sementara itu, Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, tidak ada jaminan orang yang saat ini terinfeksi covid-19 varian Omicron tidak akan terinfeksi varian lain ke depannya. Pernyataan itu bisa saja benar. Namanya juga virus, gampang bermutasinya.
“Orang yang terinfeksi Omicron tidak ada jaminan dia tidak akan terinfeksi varian baru lagi ke depan, tidak ada jaminan,” kata Dicky.
Menurut dia, karakter dari virus ini seperti pendahulunya, yakni akan memerlukan vaksin booster, terutama pada kelompok berisiko. Artinya, orang yang saat ini sudah terkenal varian Omicron tetap bisa terinfeksi varian lain ke depannya.
Terkait vaksinasi, kata Dicky, ke depan tidak harus menyasar semua penduduk. Cukup kelompok berisiko dan anak-anak saja yang memerlukan vaksin atau booster untuk memproteksi mereka.
“Karena mencapai herd immunity itu lama. Selama proses itu, kita harus lindungi kelompok paling rawan agar tidak membebani faskes dan menurunkan tingkat kematian,” tegasnya.
Berdasarkan data Satgas Covid-19 per kemarin, Kamis (10/2/2022), kasus terkonfirmasi positif Indonesia bertambah 40.618 kasus sehingga total kasus mencapai 4.667.554 kasus. Sedangkan kasus aktif covid-19 di Indonesia sudah mencapai 288.186 kasus.
Kasus sembuh juga bertambah 18.182, sehingga totalnya mencapai 4.234.510 kasus. Sementara itu, pasien meninggal bertambah 74 orang, sehingga totalnya mencapai 144.858 sejak pandemi covid-19 melanda Indonesia pada Maret 2020.
Sedangkan untuk vaksinasi yang dilakukan, pemerintah telah menyuntikkan vaksin dosis pertama covid-19 di Indonesia sejumlah 187.696.710 dosis, dosis kedua yang sudah disuntikkan adalah sebanyak 133.703.748 dosis dan vaksinasi ketiga mencapai 6.391.787 dosis. (her/din)










